Perspektif Akuntansi Manajemen


Akuntansi Manajemen berkaitan dengan penyediaan informasi kepada manajer, yaitu pihak didalam perusahaan yang bertanggungjawab dalam mencapai tujuan perusahaan. Karena berorientasi kepada manajer, maka setiap mengkaji Akuntansi Manajemen harus memahami terlebih dahulu proses-proses yang berkaitan Akuntansi (pencatatan dan pelaporan transaksi-transaksi berdasarkan kaidah akuntansi -ayat jurnal, posting, penyajian rugi laba dan neraca, serta rekonsiliasi- dan dasar-dasar pengklasifikasian biaya) dan proses-proses manajemen didalam organisasi.

Sistem Informasi Akuntansi Manajemen
Tujuan : Mahasiswa mampu menjelaskan tentang kebutuhan Sistem Informasi Akuntansi Manajemen

Sistem Informasi Akuntansi Manajemen (Management Accounting Information System) adalah sistem informasi yang menghasilkan keluaran (output) dengan menggunakan masukan (input) dan berbagai proses yang diperlukan untuk memenuhi tujuan khusus manajemen. Model operasional dari Sistem Informasi Akuntansi Manajemen diilustrasikan dibawah ini :

Figur 1.1
Model Operasional Sistem Informasi Akuntansi Manajemen

Economic events:
Penjualan
Produksi
Pengumpulan
Pengukuran
Penyimpanan
Analisis
Pelaporan
Pengelolaan Laporan khusus
Harga pokok produk
Biaya pelanggan
Anggaran
Laporan kinerja

Masukan
(input) Proses
(process) Keluaran
(output)

Pengguna

(Sumber: Hansen & Mowen, Akuntansi Manajemen, buku 1, hal 4)

Sistem Informasi Akuntansi Manajemen tidak terikat oleh kriteria formal yang menjelaskan sifat masukan atau proses bahkan keluarannya. Kriteria tersebut fleksibel dan berdasarkan tujuan yang akan dicapai oleh perusahaan melalui upaya manajer. Sistem Informasi Akuntansi Manajemen memiliki tiga tujuan yaitu :
1. Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perhitungan harga pokok jasa, produk dan tujuan lain yang diinginkan perusahaan. (Normatif: tujuan perusahaan adalah memperoleh laba)
2. Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian dan perbaikan berkelanjutan.
3. Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.

Tujuan tersebut menunjukkan bahwa manajer perlu memiliki akses dan pemahaman atas Sistem Informasi Akuntansi Manajemen. Karena informasi tersebut akan membantu manajer untuk mengidentifikasi suatu masalah, menyelesaikan masalah dan mengevaluasinya dalam rangka memastikan pencapaian tujuan perusahaan. Dengan demikian Sistem Informasi Akuntansi Manajemen akan dibutuhkan dalam setiap lingkup proses manajemen : Planning, Organizing, Actuating dan Controlling. Selain itu, kebutuhan akan Sistem Informasi Akuntansi Manajemen ini dipergunakan disemua perusahaan baik yang bergerak di industri manufaktur, dagang atau jasa.

Proses Manajemen
Tujuan : Mahasiswa mampu menjelaskan tentang proses manajemen.

Proses manajemen (management process) didefinisikan sebagai kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh manajer dalam menjalankan perusahaan untuk mencapai tujuan. Pada umumnya meliputi 4 kegiatan :
1. Perencanaan (planning). Merupakan formulasi terinci dari kegiatan untuk mencapai suatu tujuan akhir tertentu. Merupakan awal dari upaya pencapaian tujuan manajemen.
2. Pengorganisasian dan Pengarahan (organizing). Setelah rencana disusun, manajemen harus melakukan upaya pengorganisasian dan pengarahan supaya apa yang direncanakan dilakukan secara tepat
3. Pengendalian (controlling). Pelaksanaan rencana dalam setiap tahap kegiatan harus selalu diawasi untuk memastikan bahwa rencana berjalan sebagaimana seharusnya. Pada tahap pengendalian ini apabila perlu dapat dilakukan tindakan korektif.
4. Pengambilan keputusan (decision making). Merupakan satu moment dimana manajemen harus memilih dari beberapa alternativ. Keputusan yang diambil dapat ditingkatkan kualitasnya jika manajemen memiliki informasi-informasi yang relevan untuk mengambil keputusan.
(Sumber: Hansen & Mowen, Akuntansi Manajemen, buku 1, hal. 8)

D. Akuntansi Manajemen dan Akuntansi Keuangan
Tujuan : Mahasiswa mampu menjelaskan tentang perbedaan dan persamaan Akuntansi Manajemen dan Akuntansi Keuangan.

Didalam satu perusahaan akan memiliki dua subsistem utama yaitu : sistem Akuntansi Manajemen dan sistem Akuntansi Keuangan (Financial Accounting Information System)(Sistem Informasi Akuntansi merupakan subsistem dari Sistem Informasi Manajemen perusahaan secara keseluruhan). Kedua sub sistem tersebut berbeda tujuannya, sifat masukannya dan jenis proses yang diperlukan untuk mengubah masukan menjadi keluaran.

Sistem Informasi Akuntansi Keuangan berhubungan terutama dengan penyediaan keluaran bagi pengguna eksternal. Sistem tersebut menggunakan kegiatan ekonomi sebagai masukan dan memprosesnya sampai memenuhi aturan dan ketentuan tertentu. (di Indonesia : Standar Akuntansi Keuangan) Tujuannya adalah untuk menyusun laporan eksternal(laporan keuangan) bagi
a. investor,
b. kreditor,
c. lembaga pemerintah
d. pengguna eksternal lainnya.

Sistem akuntansi manajemen menghasilkan informasi untuk pengguna internal, seperti manajer, CEO (Chief Executive Officer). Secara spesifik akuntansi manajemen mengidentifikasi, mengumpulkan, mengukur, mengklasifikasi dan melaporkan informasi yang bermanfaat bagi pengguna internal untuk merencanakan, mengendalikan dan membuat keputusan untuk mencapai tujuan perusahaan.

Perbedaan secara keseluruhan mengenai akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen dapat dilihat pada tampilan dibawah ini :
Akuntansi Manajemen Akuntansi Keuangan
1. Fokus internal
2. Tidak mengikuti aturan
3. Informasi keuangan dan non keuangan : informasi dapat bersifat subyektif.
Penekanan pada masa yang akan datang.
5. Evaluasi dan keputusan internal didasarkan atas informasi yang terinci.
6. Sangat luas dan multidisiplin. 1 Fokus eksternal
2. Mengikuti aturan dari pihak tertentu
3. Informasi keuangan bersifat obyektif.
4. Berorientasi historis
5. Informasi mengenai perusahaan secara keseluruhan
Lebih independen.

(Sumber: Hansen & Mowen, Akuntansi Manajemen, buku 1, hal 9)

E. Perspektif Historis Akuntansi Manajemen
Tujuan : Mahasiswa mampu memahami sejarah Akuntansi Manajemen.

Akuntansi manajemen berdasarkan kalkulasi biaya produk (product costing) mulai diperkenalkan pada abad ke-19. Perkembangan periode pertama dimulai pada periode 1880 sampai dengan 1925, dengan penekanan pada kalkulasi biaya produk manajerial-menelusuri profitabilitas perusahaan kemasing-masing produk dan menggunakan informasi ini untuk mengambil keputusan strategis. Periode berikutnya bergeser pada pendekatan kalkulasi biaya persediaan-pembebanan biaya manufaktur ke produk sehingga biaya persediaan dapat dilaporkan kepada pengguna eksternal laporan keuangan perusahaan.

Beberapa usaha untuk meningkatkan kegunaan manajerial dari sistem biaya konvensional dilakukan pada 1950-an dan 1960-an. Pengguna mendiskusikan kelemahan informasi yang disediakan oleh sistem yang dirancang untuk menyusun laporan keuangan. Semua usaha tersebut terpusat pada pemberian informasi akuntansi keuangan yang lebih berguna bagi penggunanya daripada pembuatan seperangkat informasi dan prosedur baru yang terpisah dari sistem pelaporan eksternal.

Pada tahun 1990-an banyak ditemukan bahwa praktek-praktek Akuntansi Manajemen tradisional sudah tidak mampu lagi melayani kebutuhan manajerial. Beberapa pihak menyatakan bahwa sistem akuntansi manajemen yang ada sudah usang dan kurang tepat untuk kondisi sekarang. Kalkulasi biaya produk yang lebih akurat, lebih berguna dan yang menjelaskan secara rinci penggunaan masukan, dibutuhkan untuk memungkinkan manajer meningkatkan mutu, produktifitas dan mengurangi biaya. Sebagai tanggapan terhadap kelemahan sistem akuntansi manajemen tradisional, berbagai usaha dilakukan untuk mengembangkan sistem akuntansi manajemen yang baru – yang dapat memenuhi kebutuhan lingkungan ekonomi dewasa ini.

F. Tema-Tema Baru dalam Akuntansi Manajemen.
Tujuan : Mahasiswa dapat mengidentifikasi dan menjelaskan berbagai tema baru akuntansi manajemen yang mengemuka.

Lingkungan ekonomi yang dihadapi perusahaan dewasa ini telah menuntut adanya pengembangan terhadap praktek-praktek akuntansi manajemen yang inovatif dan relevan. Perubahan ini menciptakan lingkungan baru pada akuntansi manjemen-setidaknya untuk beberapa organisasi. Adapun faktor kunci perubahan tersebut adalah :
1. Orientasi kepada pelanggan.
2. Perspektif lintas fungsional.
3. Persaingan global.
4. Manajemen mutu total (Total Quality Management).
5. Waktu sebagai unsur kompetitif.
6. Kemajuan teknologi informasi. Dll.

G. Peranan Akuntan Manajemen
Tujuan : mahasiswa memahami peranan akuntan manajemen dalam suatu organisasi.

Peranan akuntan manajemen dalam suatu organisasi merupakan peran pembantu, karena mereka membantu orang-orang yang bertanggung jawab melaksanakan tujuan dasar organisasi. Posisi yang bertanggung jawab langsung pada tujuan dasar organisasi disebut sebagai posisi lini (line position). Posisi yang mendukung tetapi tidak bertanggung jawab langsung terhadap tujuan dasar organisasi disebut posisi staf (staff position).

Akuntan manajemen meskipun hanya mendapat peran pembantu akan menyiapkan diri dengan wawasan global, paham dan tanggap terhadap perubahan lingkungan, cerdas dan kritis sehingga dengan demikian mereka akan dapat mengambil keputusan yang tepat dalam mencapai tujuan organisasi.

H. Akuntansi Manajemen dan Perilaku Etis
Tujuan : Mahasiswa memahami dengan baik pentingnya perilaku etis bagi akuntan manajemen.

Perilaku etis (ethical behavior) melibatkan tindakan-tindakan yang “benar” dan “sesuai’ serta “tepat”. Hal yang sama akan berlaku umum, termasuk ketika para akuntan manajemen dihadapkan pada berbagai kondisi riil pada saat akan mengambil keputusan. Sementara disisi lain semua praktek akuntansi manajemen dikembangkan untuk membantu manajer dalam memaksimumkan laba. Secara tradisional kinerja perusahaan akan menjadi suatu pertimbangan. Namun para manajer dan akuntan manajemen seharusnya bisa membangun keyakinan bahwa satu-satunya tujuan bisnis adalah memaksimumkan kekayaan secara “bersih”. Sehingga diperlukan pembatasan bahwa untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan melalui cara-cara yang “sah” dan “etis”.

Pemikiran hal tersebut diwujudkan dalam beberapa nilai inti (core value), yang bilamana diterapkan akan memberikan hal-hal yang positif untuk pencapaian tujuan organisasi dan keberlanjutan kehidupan organisasi di masa yang akan datang. Nilai-nilai tersebut adalah :
1. Kejujuran
2. Integritas
3. Memegang janji
4. Kesetiaan
5. Keadilan
6. Kepedulian terhadap sesame
7. Penghargaan kepada orang lain
8. Kewarganegaraan yang bertanggungjawab
9. Pencapaian kesempurnaan
10. Akuntabilitas

Organisasi pada umumnya akan menetapkan standar perilaku untuk manajer dan pekerjaannya. Biasanya mengacu pada core value diatas, dimana para manajer atau akuntan manajemen akan diupayakan untuk mematuhi standar perilaku yang dibuat. Hal yang dimungkinkan adalah meminimalkan bagaimana manajer dan akuntan manajemen melakukan perilaku yang tidak sesuai standar melalui aplikasi standar perilaku tersebut.

Leave a Reply for Novia

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s