MANUSIA


MANUSIA

untuk mengunduh file… silahkan di klik link diatas.

 

bahan referensinya :

Bottom of Form

BAB II

MANUSIA SEBAGAI MAHLUK INDIVIDU

II.1. Pengertian

Individu berasal dari kata latin “individuum” artinya yang tidak terbagi, maka kata individu merupakan sebutan yang dapat digunakan untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas. Kata individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tak dapat dibagi, melainkan sebagai kesatuan yang terbatas yaitu sebagai manusia perseorangan. Istilah individu dalam kaitannya dengan pembicaraan mengenai keluarga dan masyarakat manusia, dapat pula diartikan sebagai manusia.

Dalam pandangan psikologi sosial, manusia itu disebut individu bila pola tingkah lakunya bersifat spesifik dirinya dan bukan lagi mengikuti pola tingkah laku umum. Ini berarti bahwa individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas didalam lingkungan sosialnya, melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya. Didalam suatu kerumunan massa manusia cenderung menyingkirkan individualitasnya, karena tingkah laku yang ditampilkannya hampir identik dengan tingkah laku masa.

 

II.2. Kedudukan Manusia sebagai Mahluk Individu

II.2.1.Manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

Manusia sebagai makhluk individu diartikan sebagai person atau perseorangan atau sebagai diri pribadi. Manusia sebagai diri pribadi merupakan makhluk yang diciptakan secara sempurna oleh Tuhan Yang Maha Esa. Disebutkan dalam Kitab Suci Al Quran bahwa Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya“.

Jika kita amati secara seksama benda-benda atau makhluk ciptaan Tuhan yang ada di sekitar kita, mereka memiliki unsur yang melekat padanya, yaitu unsur benda, hidup, naluri, dan akal budi.

1).Makhluk Tuhan yang hanya memiliki satu unsur, yaitu benda atau materi saja. Misalnya, batu, kayu, dan meja.

2).Makhluk Tuhan yang memiliki dua unsur, yaitu benda dan hidup. Misalnya, tumbuh-tumbuhan dan pepohonan.

3).Makhluk Tuhan yang memiliki tiga unsur, yaitu benda, hidup, dan naluri/ instink. Misalnya, binatang, temak, kambing, kerbau, sapi, dan ayarn.

4).Makhluk Tuhan yang memiliki empat unsur, yaitu benda, hidup, naluri/instink, dan akal budi. Misalnya, manusia merupakan makhluk yang memiliki keunggulan dibanding dengan makhluk yang lain karena manusia memiliki empat unsur, yaitu benda, hidup, instink, dan naluri.

II.2.2. Hakikat manusia

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Manusia didudukkan sesuai dengan kodrat, harkat, martabat, hak, dan kewajibannya.

1) Kodrat manusia

Kodrat manusia adalah keseluruhan sifat-sifat sah, kemampuan atau bakat- bakat alami yang melekat pada manusia, yaitu manusia sebagai makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Ditinjau dan kodratnya, kedudukan manusia secara pribadi antara lain sesuai dengansifat-sifat aslinya, kemampuannya, dan bakat-bakat alami yang melekat padanya.

2. Harkat manusia

Harkat manusia artinya derajat manusia. Harkat manusia adalah nilai manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

3. Martabat manusia

Martabat manusia artinya harga diri manusia. Martabat manusia adalah kedudukan manusia yang terhormat sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang berakal budi sehingga manusia mendapat tempat yang tinggi dibanding makhluk yang lain. Ditinjau dan martabatnya, kedudukan manusia itu lebih tinggi dan lebih terhormat dibandingican dengan makhluk lainnya

3. Hakasasi manusia

Hak asasi manusia adalah hak dasar yang dimihiki oleh setiap manusia sebagai anugerah dan Tuhan Yang Maha Esa, seperti hak hidup, hak milik, dan hak kebebasan atau kemerdekaan.

5. Kewaiban manusia

Kewajiban manusia artinya sesuatu yang harus dikerjakan oleh manusia. Kewajiban manusia adalah keharusan untuk melakukan sesuatu sebagai konsekwensi manusia sebagai makhluk individu yang mempunyai hak-hak asasi. Ditinjau dan kewajibannya, manusia berkedudukan sama, artinya tidak ada diskriminasi dalam melaksanakan kewajiban hidupnya sehari-hari.

II.3.Karakteristik Manusia Sebagai Mahluk Individu

Setiap insan yang dilahirkan tentunya mempunyai pribadi yang berbeda atau menjadi dirinya sendiri, sekalipun sanak kembar. Itulah uniknya manusia. Karena dengan adanya individulitas itu setiap orang memiliki kehendak, perasaan, cita-cita, kecenderungan, semangat, daya tahan yang berbeda.Kesanggupan untuk memikul tanggung jawab sendiri merupakan ciri yang sangat essensial dari adanya individualitas pada diri setiap insan.

Menurut Oxendine dalam (Tim Dosen TEP, 2005) bahwa perbedaan individualitas setiap insan nampak secara khusus pada aspek sebagai berikut

1.Perbedaan fisik: usia, tingkat dan berat badan, jenis kelamin, pendengaran, penglihatan, kemampuan bertindak.

2.Perbedaan sosial: status ekonomi,agama, hubungan keluarga, suku.

3.Perbedaan kepribadian: watak, motif, minat dan sikap.

4.Perbedaan kecakapan atau kepandaian

II.4. Pengembangan Manusia Sebagai Makhluk Individu

Sebagai makhluk individu yang menjadi satuan terkecil dalam suatu organisasi atau kelompok, manusia harus memiliki kesadaran diri yang dimulai dari kesadaran pribadi di antara segala kesadaran terhadap segala sesuatu. Kesadaran diri tersebut meliputi kesadaran diri di antara realita,s elf-res pect,s elf- narcisme, egoisme, martabat kepribadian, perbedaan dan persamaan dengan

pribadi lain, khususnya kesadaran akan potensi-potensi pribadi yang menjadi dasar bagis elf-real is ation.

Sebagai makhluk individu, manusia memerlukan pola tingkah laku yang bukan merupakan tindakan instingtif belaka. Manusia yang biasa dikenal dengan Homo sapiens memiliki akal pikiran yang dapat digunakan untuk berpikir dan berlaku bijaksana. Dengan akal tersebut, manusia dapat mengembangkan potensi-

potensi yang ada di dalam dirinya seperti, karya, cipta, dan karsa. Dengan pengembangan potensi-potensi yang ada, manusia mampu mengembangkan dirinya sebagai manusia seutuhnya yaitu makhluk ciptaan Tuhan yang paling

sempurna. Perkembangan manusia secara perorangan pun melalui tahap-tahap yang memakan waktu puluhan atau bahakan belasan tahun untuk menjadi dewasa. Upaya pendidikan dalam menjadikan manusia semakin berkembang. Perkembangan keindividualan memungkinkan seseorang untuk mengmbangkan setiap potensi yang ada pada dirinya secara optimal. Sebagai makhluk individu manusia mempunyai suatu potensi yang akan berkembang jika disertai dengan pendidikan. Melalui pendidikan, manusia dapat menggali dan mengoptimalkan segala potensi yang ada pada dirinya. Melalui pendidikan pula manusia dapat mengembangkan ide-ide yang ada dalam pikirannya dan menerapkannya dalam kehidupannya sehari-hari yang dapat meningkatkan kualitas hidup manusia itu sendiri.

 

II.5. Kepribadian

II.5.1. Defenisi

Banyak para ahli yang memberikan perhatian dan mencurahkan penelitiannya untuk mendeskripsikan penelitiannya mengenai tentang pola tingkah laku yang nantinya merunut juga pada pola tingkah laku manusia sebagai bahan perbandingannya.

Pola-pola tingkah laku bagi semua individu yang tergolong dalam satu ras pun tidak ada yang seragam. Sebab tingkah laku Manusia tidak hanya ditentukan oleh system organic biologinya saja, melainkan juga akal dan pikirannya serta jiwanya, sehingga variasi pola tingkah laku Manusia sangat besar diversitasnya dan unik bagi setiap manusia.

Jadi “Kepribadian” dalam konteks yang lebih mendalam adalah “susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan tingkah laku atau tindakan seorang

individu”.

 

II.5.2. Unsur-unsur Kepribadian

Ada beberapa unsur-unsur dari kepribadian. Diantaranya adalah sebagai berikut :

1.

Pengetahuan

Pengetahuan merupakan suatu unsur-unsur yang mengisi akal dan alam jiwa orang yang sadar. Dalam alam sekitar manusia terdapat berbagai hal yang diterimanya melalui panca inderanya yang masuk kedalam berbagi sel di bagian- bagian tertentu dari otaknya. Dan didalam otak tersebutlah semuanya diproses menjadi susunan yang dipancarkan oleh individu kealam sekitar. Dan dalam Antropologi dikenal sebagai “persepsi” yaitu; “seluruh proses akal manusia yang

sadar”.

Ada kalanya suatu persepsi yang diproyeksikan kembali menjadi suatu penggambaran berfokus tentang lingkungan yang mengandung bagian-bagian. Penggambaran yang terfokus secara lebih intensif yang terjadi karena pemustan secara lebih intensif di dalam pandangan psikologi biasanya disebut dengan “Pengamatan”. Penggambaran tentang lingkungan dengan fokus pada bagian-bagian yang paling menarik perhatianya seringkali diolah oleh sutu proses dalam aklanya yang menghubungkannya dengan berbagai penggambaran lain yang sejenisnya yang sebelumnya pernah diterima dan diproyeksikan oleh akalnya, dan kemudian muncul kembali sebagai kenangan.

Dan penggambaran yang baru dengan pengertian baru dalam istilah psikologi disebut“ Apers eps i” .

Penggabungan dan membandingkan-bandingkan bagian-bagian dari suatu penggambaran dengan bagian-bagian dari berbagai penggambaran lain yang sejenis secara konsisten berdasarkan asas-asas tertentu. Dengan proses kemampuan untuk membentuk suatu penggambaran baru yang abstrak, yang dalam kenyataanya tidak mirip dengan salah satu dari sekian macam bahan konkret dari penggambaran yang baru.

Dengan demikian manusia dapat membuat suatu penggambaran tentang tempat-tempat tertentu di muka bumi, padahal ia belum pernah melihat atau mempersepsikan tempat-tempat tersebut. Penggambaran abstrak tadi dalam ilmu- ilmu sosial disebut dengan“ Konsep” .

Cara pengamatan yang menyebabkan bahwa penggambaran tentang

lingkungan mungkin ada yang ditambah-tambah atau dibesar-besarkan, tetapi ada pula yang dikurangi atau diperkecil pada bagian-bagian tertentu. Dan ada pula yang digabung dengan penggambaran-pengambaran lain sehingga menjadi penggambaran yang baru sama sekali, yang sebenarnya tidak nyata. Dan penggambaran baru yang seringkali tidak realistic dalam Psikologi disebut dengan“ Fantasi” .

Seluruh penggambaran, apersepsi, pengamatan, konsep, dan fantasi merupakan unsur-unsur pengetahuan yang secara sadar dimiliki seorang Individu.

2. Perasaan

Selain pengetahuan, alam kesadaran manusia juga mengandung berbagai macam perasaan. Sebaliknya, dapat juga digambarkan seorang individu yang melihat suatu hal yang buruk atau mendengar suara yang tidak menyenangkan. Persepsi-persepsi seperti itu dapat menimbulkan dalam kesadaranya perasaan negatif.

“Perasaan”, disamping segala macam pengetahuan agaknya juga mengisi alam kesadaran manusia setiap saat dalam hidupnya. “Perasaan” adalah suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena pengetahuannya dinilai sebagai keadan yang positif atau negative.

3.Dorongan Naluri

Kesadaran manusia mengandung berbagi perasaan berbagi perasaan lain yang tidak ditimbulkan karena diperanguhi oleh pengeathuannya, tetapi karena memang sudah terkandung di dalam organismenya, khususnya dalam gennya, sebagai naluri. Dan kemauan yang sudah merupakan naluri disebut“D orongan” .

Makalah Manusia Sebagai Makhluk Individu Dan Makhluk Sosial

 

Two are better than one,  because they have a good return for their work:  If one falls down,  his friend can help him up.  But pity the man who falls  and has no one to help him up!  Also, if two lie down together, they will keep warm.  But how can one keep warm alone?
— Ecclesiastes 4:9-12

 

  1. Manusia Sebagai Makhluk Ciptaan Tuhan

Latar belakang
Banyak guru dan orang tua senang bila siswa dan anak mereka berlaku santun menghargai dan menghormati setiap manusia dan berbudi luhur. Banyak pendidik gembira bila para siswa dapat bekerja sama dengan teman-teman lain dapat menghargai perbedaan serta hidup bersama orang lain. Banyak pendidik senang bila para siswa berkembang menjadi manusia yang bertanggung jawab menghargai pribadi manusia yang berdamai dengan Sang Pencipta dan alam ciptaan. Para pendidik tidak suka bila para siswa hanya pandai dalam ilmu pengetahuan tetapi senang tawuran, berkelahi, mengambil atau merusak milik orang lain, hal itu dianggap kurang beradap.
Dari keinginan dan dambaan orang tua dan para pendidik sangat jelas manusia seperti apa yang mereka inginkan terjadi dalam diri anak didik mereka. Mereka menginginkan bahwa anak didik menjadi manusia yang lebih utuh yang berkembang bukan hanya dalam ilmu pengetahuan tetapi sikap dan nilai kemanusiaan. Dan keinginan itu secara jelas akhir-akhir ini ditanamkan oleh para pendidik lewat budi pekerti. Maka tampak jelas bahwa berbicara tentang budi pekerti tidak dapat lepas dari pandangan kita tentang manusia, siapa manusia itu dan mau kemana dengan hidup ini semua keinginan para pendidik jelas menunjukan manusia macam apa yang didambakan dengan pendidikan budi pekerti.

 

Tujuan

  1. Mengetahui pengertian tentang arti manusia dan kedudukannya
  2. Mengetahui manusia sebagai makhluk yang berakal budi
  3. Mengetahui manusia sebagai makhluk pribadi
  4. Mengetahui manusia sebagai makhluk social
  5. Mengetahui manusia sebagai makhluk yang berbudaya
  6. Mengetahui tujuan hidup manusia
  7. Mengetahui pengertian pendidikan manusia

 

PEMBAHASAN

A. Pengertian Manusia

Apa bedanya seekor kera dengan manusia? Apa bedanya seekor harimau dengan seorang manusia? Apa bedanya seekor anjing dengan seorang manusia meski makhluk hidup mereka sama-sama makan, minum, berkembang biak, dapat sakit, dan mati tetapi mereka sungguh berbeda jauh seekor kera bila lapar dan melihat buah pisang, akan langsung mengambil pisang itu dan memakannya. Seekor harimau bila marah akan langsung menerkam musuhnya dan seekor anjing bila sedang bernafsu birahi akan langsung mengejar ajing yang betina dan mengawininya sedangkan manusia tidak. Manusia meski ia lapar, ia dapat menahan diri tidak langsung mengambil makanan yang ada didepannya. Meski ia marah, ia dapat menahan diri dan tidak langsung melampiaskan kemarahan, dan jika ia sedang bernafsu ia dapat menahan atau tidak langsung menyalurkan birahinya.
1. Manusia sebagai makhluk berakal budi

Manusia dapat berfikir dapat mempunyai kehendak bebas untuk memilih dan menentukan apa yang akan diperbuatnya dan ia dapat bertanggung jawab terhadap pilihannya itu. Semuanya itu karena manusia memiliki akal budi maka manusia disebut Animal Rationale. Binatang hidup dari naluri dan instink tidak menggunakan akal budi dan ikut saja apa yang menggerakkan dirinya, sedangkan manusia dapat mengatur tindakannya dengan akal budinya. Meski manusia lapar, ia dapat menunda keinginan itu sampai dirumah sedangkan binatang, langsung menerkam musuhnya. Meski manusia marah sekali tapi ia dapat mengatur untuk tidak melampiaskan kemarahannya kepada orang yang membuat marah. Manusia disakiti oleh manusia lain ia dapat memilih untuk tidak membalas menyakiti bahkan dapat mengampuninya yang menyakitinya. Hal ini disebabkan karena manusia bertindak berdasarkan akal budinya bukan berdasarkan instink.

Dengan akal budi itu manusia dapat memilih antara yang baik dan yang tidak baik. Ia bebas untuk menentukan sendiri mau memilih yang mana dengan segala resikonya. Bila ia memilih tindakan yang baik maka ia akan berkembang menjadi semakin baik, bila ia memilih hal tidak baik maka ia akan berkembang menjadi jahat. Dalam hal ini jelas ada unsur kesadaran dalam tindakan manusia, kesadaran manusia harus bertanggung jawab tehadap pilihannya sendiri dan tidak boleh melemparkan tanggung jawab kepada orang lain.
2. Manusia sebagai mahkluk pribadi

Manusia sering kali dianggap sebagai pribadi atau personal. Pribadi karena semua yang dia buat ia sendirilah yang menentukan dan ia sendirilah yang menginginkan. Sebagai pribadi yang ekstrem, kebahagiaan manusia pertama-tama menjadi tanggung jawab dia sendiri karena dialah yang memilih dan menentukan tindakan yang baik dan tindakan tidak baik. Bila seorang celaka tidak bahagia dalam hidup pertama-tama karena dia sendiri yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada dirinya.
Sebagai pribadi manusia bernilai, berharga, sebagai pribadi manusia mempunyai kemanusiaan yang tidak boleh diganggu atau disengsarakan oleh karena itu manusia tidak boleh dipaksa, diobjekan, apalagi dihancurkan.Setiap manusia mempunyai hak asasi nya yang tidak boleh dilanggar oleh orang lain walaupun orang itu pimpinannya. Hak asasi seperti misalnya hak hidup, hak beragama, hak bertempat tinggal, hak perlu dilindungi karena manusia tidak dapat menentukan hidup orang lain.
Manusia disadari sebagai ciptaan Tuhan, sang pencipta oleh karena manusia adalah ciptaan Tuhan dan setiap manusia diciptakan itu bernilai. Tuhan menciptakan manusia atas kuasa utntuk menghalangi manusia lain apalagi menghancurkan ciptaan Tuhan tersebut. Oleh karena itu manusia adalah ciptaan Tuhan yang diharapkan berkembang dan semakin dkat dengan Tuhan nya. Dalam relasi yang akrab dengan Tuhan pribadi manusia semakin disempurnakan.  Sebagai pribadi ciptaan Tuhan, manusia itu bersifat rohani dan jasmani. Prof. Driayarkara menyebutnya manusia sebagai roh yang menjasmani atau jasmani yang meng-roh. Keduanya tidak dapat dipisahkan sebagai manusia yang utuh. Oleh karena sifat rohaninya manusia dapat berelasi dengan Allah, dapat berfikir, berasa badaniah dan jasmani, bermeditasi dengan ilahi.

3. Manusia sebagai makhluk social

Manusia juga disebut makhluk sosial. Dalam kenyataan hidup ternyata manusia yang berpribadi itu tidak dapat hidup sendiri. Seorang anak yang baru lahir tidak dapat hidup begitu saja tanpa bantuan orang lain, seperti orang tuanya. Seorang anak yang baru lahir bila dibiarkan ditengah hutan tanpa berelasi dengan manusia lain tidak akan menjadi manusia. Bahkan ada pengalaman, seorang anak yang sejak kecil dipelihara oleh serigala ditengah hutan, akhirnya bertungkah seperti serigala.
Dari pengalaman hidup yang biasa, kita juga mengalami bahwa kita sungguh tidak dapat hidup tanpa bantuan, uluran, maupun campur tangan dari orang lain. Untuk kemajuannya, kita perlu belajar dari orang lain baik dalam pendidikan formal maupun informal. Dalam proses pendidikan itu sangat banyak orang ikut membantu atau andil dalam pertumbuhan dan perkembangan hidup kita. Dari sini jelas bahwa pribadi-pribadi baru akan dapat hidup menjadi pribadi yang lebih sempurna atau menjadi manusia, bila bersama orang lain. Tanpa kebersamaan dengan orang lain, kita tidak akna menjadi manusia. Inilah unsur sosialitas hidup kita .

Sebagai makhluk sosial inilah manusia akhirnya membangun pesaudaraan atau persekutuan dengan orang lain. Persaudaraan yang terkecil adalah keluarga yang berdasarkan darah kelahiran. Persekutuan yang lebih luas terwujud dalam hidup bermasyarakat, berorganisasi karena tugas dan tujuan yang sama, dan yang lebih besar membangun suatu negara yang dapat menjamin hidup mereka masing-masing

4. Manusia sebagai makhluk berbudaya

Manusia juga seing dikatakan sebagai makhluk yang berbudaya. Berbudaya mempunyai berbagai makna. Kita berada dan hidup dalam budaya tertentu. Namun, kita juga diharapkan ikut mengembangkan budaya tempat kita dilahirkan. Hal ini hanya mungkin bila kita sadar akan budaya asal kita dan kritis terhadap budaya tersebut sehingga dapat menilai mana yang kurang baik untuk dapat dirubah dan dikembangkan. Proses ini semua akan semakin menjadikan kita berbudaya tinggi, yaitu dengan meneruskan nilai budaya yang sudah baik dan mengubah nilai yang sudah tidak baik lagi karena perkembangan zaman ataupun situasi. Hal ini memungkinkan karena kita mempunyai akal budi, kesadaran, dan juga hati.

Berbeda dengan binatang, manusia itu mempunyai jiwa seni dapat menghargai seni tari, musik, sajak, dan dapat berbahasa. Itulah beberapa bentuk budaya yang dihidupi. Dan itu juga yang membedakan manusia dengan binatang. Manuia yang berbudaya dapat hidup dalam sopan santun dengan orang lain, tidak selalu harus melampiaskan nafsunya bahkan dalam melampiaskan nafsunya pun digunakan cara-cara yang berbudaya. Kita tahu bahwa setiap orang dilahirkan dalam budaya tertentu dan dapat berbeda dengan budaya orang lain yang dilahirkan ditempat lain. Maka dalam pergaulan dan komunikasi, sering dapat muncul persoalan dan bahkan konflik karena perbedaan budaya tersebut. Disini dibutuhkan keterbukaan dan juga kepekaan terhadap nilai budaya orang lain sehingga kita dapat saling menghargai budaya yang berbeda itu dan dapat saling memperkaya.

B. Tujuan Hidup Manusia
Manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan bertujuan untuk mencapai tujuan baik secara duniawi dan surgawi kebahagian itu dicapai bila manusia semakin menyempurnakan dirinya. Maka manusia secara bebas mengembangkan dirinya untuk semakin menjadi sempurna dan semakin baik. Manusia mengembangkan segi hidupnya, segi rohani, jasmani, pribadi, sosial, budaya, akal budi, emosi, religiositasnya. Semua segi itu perlu dikembangkan secara seimbang.
Yang menarik kita simak adalah bahwa kesempurnaan manusia itu ternyata hanya dapat tercapai bila dalam proses penyempurnaan itu ia menyempurnakan sesamanya dan dunia tempat dia berada. Tanpa menyempurnakan mereka itu, manusia tidak dapat menjadi semakin sempurna (Driyarkara, 1969:60). Secara sederhana itu berarti bahwa manusia baru akan menjadi lebih baik, lebih berkembang, lebih mendekati Tuhan bila dalam hidup ini dia berdamai dengan sesama manusia, dengan dunia alam ini, dan tentu dengan Tuhan.
Manusia harus berdamai dan mengembangkan sesama manusia untuk mencapai kebahagiaan hidupnya itu berarti bahwa dalam hidup ini manusia harus mau hidup bersama orang lain, dan berdampingan dengan orang lain. Hal itu diwujudkan dengansaling membantu, saling bekomunikasi, saling bekerja sama, dan saling menjalin hubungan baik. Tanpa bersama orang lain, manusia tidak akan menjadi manusia, tetapi menjadi “sesuatu”. Secara filosofis, kebahagiaan kita sebagai manusia akan semakin penuh, bila semakin banyak orang bahagia dan kita andil didalam nya.
Manusia juga harus berdamai dengan alam dan mengembangkan alam agar menjadi tempat yang membantu perkembangan manusia. Secara moral itu berarti bahwa manusia harus mengolah dan memperlakukan alam semesta ini dengan baik sehingga dapat semakin digunakan oleh sebanyak mungkin oleh manusia lain. Tindakan merusak alam atau memboroskan penggunaan alam ini dianggap bertentangan dengan semangat berdamai dengan alam dan dianggap jahat. Alam ini diciptakan oleh Tuhan untuk digunakan bagi semua manusia agar mereka dapat mencapai kebahagiaannya.
Manusia juga harus berdamai dengan Tuhan sang pencipta. Secara sederhana perdamaian dengan Tuhan dapat diusahakan bila manusia mempunyai nhubungan dekat dengan Tuhan sendiri. Dengan relasi baik dengan sang pencipta, manusia diangkat dan disatukan dengan sang sumber kebahagian, yaitu Tuhan.

C. Pendidikan Manusia
Bila tujuan dari hidup manusia adalah untuk mencari kebahagian yang menyeluruh (dunia dan surgawi), pendidikan pun harus membantu seseorang untuk mencapai tujuan kehidupan itu, yaitu kebahagian. Dalam pengertian biasa, pendidikan manusia sering dikatakan untuk membantu anak didik agar berkembang menjadi manusia yang utuh, yang sempurna dan yang bahagia. Namun kita tahu bahwa kebahagiaan itu hanya mungkin tercapai bila manusia berelasi baik dengan sang pencipta, sesama, alam dan juga diri sendiri. Maka pendidikan manusia harus membantu anak didik untuk semakin berhubungan baik dengan sang pencipta, berdamai dengan orang lain, mengembangkan alam semesta agar menjadi lebih baik, dan mengembangkan pribadinya sendiri agar menjadi manusia yang bertanggung jawab.
Driyarkara (1980 : 127) mengungkapkan bahwa pendidikan itu bertujuan untuk memanusiakan manusia, atau membantu proses hominisasi dan humanisasi. Artinya membantu orang muda untuk semakin menjadi manusia yang berbudaya tinggi dan bernilai tinggi bukan hanya hidup sebagai manusia (makan-minum) yang bermoral, berwatak, bertanggung jawab, dan bersosialitas. Jadi pendidikan bertujuan membantu manusia muda menjadi manusia yang utuh.
Manusia utuh secara sederhhana dapat dilihat sebagai manusia yang dapat hidup selaras dengan dirinya dengan orang lain (sesama) dengan alamnya dan Tuhan Sang Pencipta. Kita sadar sebagai makhluk Tuhan kita tergantung kepada Tuhan. Ada kita karena Tuhan yang mengadakan dan seluruh hidup kita semua adalah pemberian Tuhan. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan kita diharapkan menjalin relasi yang baik dengan Tuhan dan juga menghargai semua ciptaan Tuhan yang lain sama-sama diciptakan. Dalam pengertian ini pendidikan juga harus diarahkan untuk membantu anak menyadari hakikat dirinya sebagai ciptaan dan bersikap sebagai seorang ciptaan kepada sang pencipta.
Kita merupakan makhluk hidup di alam semesta, kita tidak hidup dalam angan-angan atau langit tetapi tinggal di alam nyata. Agar hidup kita terasa damai dan alam kita perlu menjaga keselarasan dengan alam semesta. Hal ini berarti kita perlu menjaga dan melestarikan alam agar dapat digunakan kehidupan semua. Pengrusakan hutan dan penghancuran alam akan berdampak negatif terhadap bagi hidup manusia sendiri.
Salah satu tugas pendidikan budi pekerti, membantu anak muda menyadari menurut kesadaran sebagai manusia yang lebih utuh. Tentunya budi pekerti bukan satu-satunya, tetapi sarana bantuan untuk lebih melengkapi pendidikan anak muda.

 

 

  1. (MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK RELIGIUS)
    Manusia diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa di muka bumi ini sebagai makhluk yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lain. Melalui kesempurnaannya itu manusia bisa berpikir, bertindak, berusaha, dan bisa menentukan mana yang benar dan baik. Di sisi lain, manusia meyakini bahwa dia memiliki keterbatasan dan kekurangan. Mereka yakin ada kekuatan lain, yaitu Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta. Oleh sebab itu, sudah menjadi fitrah manusia jika manusia mempercayai adanya Sang Maha Pencipta yang mengatur seluruh sistem kehidupan di muka bumi.
    Dalam kehidupannya, manusia tidak bisa meninggalkan unsur Ketuhanan. Manusia selalu ingin mencari sesuatu yang sempurna. Dan sesuatu yang sempurna tersebut adalah Tuhan. Hal itu merupakan fitrah manusia yang diciptakan dengan tujuan untuk beribadah kepada Tuhannya.
    Oleh karena fitrah manusia yang diciptakan dengan tujuan beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, untuk beribadah kepada Tuhan pun diperlukan suatu ilmu. Ilmu tersebut diperoleh melalui pendidikan. Dengan pendidikan, manusia dapat mengenal siapa Tuhannya. Dengan pendidikan pula manusia dapat mengerti bagaimana cara beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
    Melalui sebuah pendidikan yang tepat, manusia akan menjadi makhluk yang dapat mengerti bagaimana seharusnya yang dilakukan sebagai seorang makhluk Tuhan. Manusia dapat mengembangkan pola pikirnya untuk dapat mempelajari tanda-tanda kebesaran Tuhan baik yang tersirat ataupu dengan jelas tersurat dalam lingkungan sehari-hari.
    Dalam kehidupannya, manusia tidak bisa meninggalkan unsur Ketuhanan. Manusia selalu ingin mencari sesuatu yang sempurna. Dan sesuatu yang sempurna tersebut adalah Tuhan. Hal itu merupakan fitrah manusia yang diciptakan dengan tujuan untuk beribadah kepada Tuhannya.
    Oleh karena fitrah manusia yang diciptakan dengan tujuan beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, untuk beribadah kepada Tuhan pun diperlukan suatu ilmu. Ilmu tersebut diperoleh melalui pendidikan. Dengan pendidikan, manusia dapat mengenal siapa Tuhannya. Dengan pendidikan pula manusia dapat mengerti bagaimana cara beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
    Melalui sebuah pendidikan yang tepat, manusia akan menjadi makhluk yang dapat mengerti bagaimana seharusnya yang dilakukan sebagai seorang makhluk Tuhan. Manusia dapat mengembangkan pola pikirnya untuk dapat mempelajari tanda-tanda kebesaran Tuhan baik yang tersirat ataupu dengan jelas tersurat dalam lingkungan sehari-hari. Manusia merupakan karya allah swt, yang terbesar dilihat dari potensi yang dimilikinya. Manusia merupakan satu-satunya makhluk allah yang aktivitasnya mampu mewujudkan begian tertinggi dari kehendak tuhan dan menjadikan sejarah (QS. 5: 56 dan QS. 75: 36), serta menjadi makhluk kosmis yang sangat penting, karena dilengkapi semua pembawaan dan syarat-syarat yang diperluka. Syarat-syarat tersebut menjadikan manusia mampu mengadakan hubungan timbal balik dengan alam dan sesamanya serta dengan pencipta dirinya yang juga pencipta alam.
  2. 3.Manusia Sebagai Makhluk Individu

Individu berasal dari kata in dan devided. Dalam Bahasa Inggris in salah satunya mengandung pengertian tidak, sedangkan devided artinya terbagi. Jadi individu artinya tidak terbagi, atau satu kesatuan. Dalam bahasa latin individu berasal dari kata individium yang berarti yang tak terbagi, jadi merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan tak terbatas.

Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa. Seseorang dikatakan sebagai manusia individu manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Jika unsur tersebut sudah tidak menyatu lagi maka seseorang tidak disebut sebagai individu. Dalam diri individi ada unsur jasmani dan rohaninya, atau ada unsur fisik dan psikisnya, atau ada unsur raga dan jiwanya.

Setiap manusia memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri, tidak ada manusia yang persis sama. Dari sekian banyak manusia, ternyata masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Seorang individu adalah perpaduan antara faktor fenotip dan genotip. Faktor genotip adalah faktor yang dibawa individu sejak lahir, ia merupakan faktor keturunan, dibawa individu sejak lahir. Kalau seseorang individu memiliki ciri fisik atau karakter sifat yang dibawa sejak lahir, ia juga memiliki ciri fisik dan karakter atau sifat yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan (faktor fenotip). Faktor lingkungan (fenotip) ikut berperan dalam pembentukan karakteristik yang khas dari seseorang. Istilah lingkungan merujuk pada lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Ligkungan fisik seperti kondisi alam sekitarnya. Lingkungan sosial, merujuk pada lingkungan di mana eorang individu melakukan interaksi sosial. Kita melakukan interaksi sosial dengan anggota keluarga, dengan teman, dan kelompok sosial yang lebih besar.

Karakteristik yang khas dari seeorang dapat kita sebut dengan kepribadian. Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh faktor bawaan genotip)dan faktor lingkungan (fenotip) yang saling berinteraksi terus-menerus.

Menurut Nursid Sumaatmadja (2000), kepribadian adalah keseluruhan perilaku individu yang merupakan hasil interaksi antara potensi-potensi bio-psiko-fiskal (fisik dan psikis) yang terbawa sejak lahir dengan rangkaian situasi lingkungan, yang terungkap pada tindakan dan perbuatan serta reaksi mental psikologisnya, jika mendapat rangsangan dari lingkungan. Dia menyimpulkan bahwa faktor lingkungan (fenotip) ikut berperan dalam pembentukan karakteristik yang khas dari seeorang.

  1. Manusia Sebagai Makhluk Sosial

Menurut kodratnya manusia adalah makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat, selain itu juga diberikan yang berupa akal pikiran yang berkembang serta dapat dikembangkan. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam kehidupannya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia.

Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya.

Dapat disimpulkan, bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, karrena beberapa alasan, yaitu:

a. Manusia tunduk pada aturan, norma sosial.

b. Perilaku manusia mengaharapkan suatu penilain dari orang lain.

c. Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain

d. Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia.

B. Interaksi Sosial dan Sosialisasi

1. Interaksi Sosial

Kata interaksi berasal dari kata inter dan action. Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik saling mempengaruhi antara individu, kelompok sosial, dan masyarakat.

Interaksi adalah proses di mana orang-oarang berkomunikasi saling pengaruh mempengaruhi dala pikiran danb tindakana. Seperti kita ketahui, bahwa manusia dalam kehidupan sehari-hari tidaklah lepas dari hubungan satu dengan yang lain.

Interaksi sosial antar individu terjadi manakala dua orang bertemu, interaksi dimulai: pada saat itu mereka saling menegeur, berjabat tangan, saling berbicara, atau bahkan mungkin berkelahi. Aktivitas-aktivitas semacam itu merupakan bentuk-bentuk dari interaksi sosial.

Interaksi sosial terjadi dengan didasari oleh faktor-faktor sebagai berikut

  1. Imitasi adalah suatu proses peniruan atau meniru.
  2. Sugesti adalah suatu poroses di mana seorang individu menerima suatu cara penglihatan atau peduman-pedoman tingkah laku orang lain tanpa dkritik terlebih dahulu. Yang dimaksud sugesti di sini adalah pengaruh pysic, baik yang datang dari dirinya sendiri maupuhn dari orang lain, yang pada umumnya diterima tanpa adanya kritik. Arti sugesti dan imitasi dalam hubungannya, dengan interaksi sosial adalaha hampir sama. Bedanya ialah bahwa imitasi orang yang satu mengikuti salah satu dirinya, sedangkan pada sugesti seeorang memberikan pandangan atau sikap dari dirinya, lalu diterima oleh orang lain di luarnya.
  3. Identifikasi dalam psikologi berarti dorongan untuk menjadi identi (sama) dengan orang lain, baik secara lahiriah maupun batiniah.
  4. Simpati adalah perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang yang lain. Simpati timbul tidak atas dasar logis rasional, melainkan berdasarkan penilain perasaan seperti juga pada proses identifikasi.

 

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL

KARAKTERISTIK MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL

Telah berabad-abad konsep manusia sebagai makhluk sosial itu ada yang menitik beratkan pada pengaruh masyarakat yang berkuasa kepada individu. Dimana memiliki unsur-unsur keharusan biologis, yang terdiri dari:

  1. Dorongan untuk makan
  2. Dorongan untuk mempertahankan diri
  3. Dorongan untuk melangsungkan jenis

Dari tahapan diatas menggambarkan bagaimana individu dalam perkembangannya sebagai seorang makhluk sosial dimana antar individu merupakan satu komponen yang saling ketergantungan dan membutuhkan. Sehingga komunikasi antar masyarakat ditentukan oleh peran oleh manusia sebagai makhluk sosial.

Dalam perkembangannya manusia juga mempunyai kecenderungan sosial untuk meniru dalam arti membentuk diri dengan melihat kehidupan masyarakat yang terdiri dari :

  1. penerimaan bentuk-bentuk kebudayaan, dimana manusia menerima bentuk-bentuk pembaharuan yang berasal dari luar sehingga dalam diri manusia terbentuk sebuah pengetahuan.
  2. penghematan tenaga dimana ini adalah merupakan tindakan meniru untuk tidak terlalu menggunakan banyak tenaga dari manusia sehingga kinerja mnausia dalam masyarakat bisa berjalan secara efektif dan efisien.

Pada umumnya hasrat meniru itu kita lihat paling jelas di dalam ikatan kelompok tetapi juga terjadi didalam kehidupan masyarakat secara luas. Dari gambaran diatas jelas bagaimana manusia itu sendiri membutuhkan sebuah interaksi atau komunikasi untuk membentuk dirinya sendiri malalui proses meniru. Sehingga secara jelas bahwa manusia itu sendiri punya konsep sebagai makhluk sosial.

Yang menjadi ciri manusia dapat dikatakan sebagai makhluk sosial adalah adanya suatu bentuk interaksi sosial didalam hubugannya dengan makhluk sosial lainnya yang dimaksud adalah dengan manusia satu dengan manusia yang lainnya. Secara garis besar faktor-faktor personal yang mempengaruhi interaksi manusia terdiri dari tiga hal yakni :

 Tekanan emosional. Ini sangat mempengaruhi bagaimana manusia berinteraksi satu sama lain.

 Harga diri yang rendah. Ketika kondisi seseorang berada dalam kondisi manusia yang direndahkan maka akan memiliki hasrat yang tinggi untuk berhubungan dengan orang lain karena kondisi tersebut dimana orang yang direndahkan membutuhkan kasih saying orang lain atau dukungan moral untuk membentuk kondisi seperti semula.

 Isolasi sosial. Orang yang terisolasi harus melakukan interaksi dengan orang yang sepaham atau sepemikiran agar terbentuk sebuah interaksi yangharmonis.

4. Beberapa Sikap Etis Soe Hok Gie 

a. Keberanian dan kejujuran sebagai kesimpulan filosofis
Berbagai kritik tajam yang dilontarkan Soe Hok Gie terhadap praktik ketidakadilan dan kesewenang-wenangan era kepemimpinan Sukarno dan Soeharto, serta terhadap perilaku teman-temannya yang oportunis, mencerminkan keberanian dan kejujuran moralnya. Soe Hok Gie melakukan kritik itu berdasarkan pemikiran yang jujur dan atas dasar itikad baik. Sebagai manusia biasa, Soe Hok Gie tentu tidak selalu benar, tetapi ia selalu jujur dan terang-terangan dalam melontarkan kritik.
Kejujuran dan keberanian tersebut dilakukan Soe Hok Gie dengan berlandaskan pada pemikiran bahwa hakikat kemanusiaan seseorang dinilai dari keterusterangan dan keberanian moralnya (Gie, 2005: 170). Menurutnya, manusia harus berterus terang walau ada kemungkinan salah dalam bertindak ketika berusaha memperbaiki keadaan. Lebih baik bertindak keliru dari pada tidak bertindak karena takut salah. Seseorang, sebagai manusia, bukan alat siapa pun, tetapi ia mempunyai kewajiban untuk secara jujur mengatakan kebenaran. Menjadi saksi kebenaran baginya adalah bangkit untuk mengatakan dengan jujur dan berani kebenaran-kebenaran yang ditindas (Gie, 2005: 234-235).
Sikap Soe Hok Gie yang memilih untuk jujur mengatakan berbagai penyimpangan yang terjadi saat itu, dalam bahasa John F. Kennedy, disebut keberanian. Keberanian dalam konteks ini dimaknai sebagai kesediaan secara sadar untuk mengabaikan akibat suatu tindakan karena hendak berpegang teguh pada prinsip dan nilai yang diyakininya (Kleden, 2001: 176). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keberanian dan kejujuran menurut Soe Hok Gie bukan hanya pembawaan psikologis, tetapi hasil dari kesimpulan filosofis berupa permenungan-permenungan atas kenyataan riil dan eksistensi dirinya.
Paling tidak, kesimpulan tersebut penulis ambil dari pemahaman Soe Hok Gie tentang keberanian dan kejujuran. Keberanian dan kejujuran, menurut Soe Hok Gie, adalah persoalan kemanusiaan, dan sebagai manusia tentu akan menghadapi pilihan-pilihan yang meragukan terkait dua hal itu. Untuk itu, sebelum melakukan sesuatu, manusia harus mempertanyakan dirinya sendiri: siapakah ia sebagai manusia? Kejujuran dalam menjawab pertanyaan tersebut sangat menentukan dirinya dalam melakukan pilihan. Jika manusia mengingkari nuraninya dalam menentukan pilihan karena rasa takut, maka manusia itu telah menentukan dirinya sebagai manusia dengan “m” kecil, dan tidak akan berkembang menjadi manusia dengan “M” besar. Manusia dengan “m” kecil adalah manusia yang tidak bisa mengembangkan kebebasannya, dan menentukan dirinya sebagai manusia yang selalu berada di bawah kendali orang lain. Sedang manusia dengan “M” besar adalah manusia-manusia baru yang akan terus berkembang karena dengan kebebasannya mampu menarik hal positif dari kehidupan (Gie, 1999: 128-129).
Dalam praksisnya, adanya berbagai pilihan yang meragukan di hadapan manusia menyangkut bagaimana seharusnya bertindak, tentu dengan sendirinya akan menimbulkan problem etis baru. Soe Hok Gie mencatat (1999: 51-52) bahwa problem etis tersebut terutama dikarenakan dalam masyarakat ada dua sistem nilai yang berbeda secara teoritis. Pertama, orang-orang yang menggunakan sistem nilai absolut sehingga pedoman tindakannya berupa nilai benar atau salah. Kedua, orang-orang yang menggunakan sistem nilai relatif sehingga pedoman tindakannya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan realistis. Menurut Soe Hok Gie, kedua sistem nilai itu sama-sama diperlukan dalam kehidupan. Ia memberi contoh bahwa seorang tokoh agamawan lebih cocok memakai sistem nilai absolute, sehingga agama tidak dijadikan kedok untuk merasionalisasi perbuatan yang salah. Sedang tentara yang bertugas di lapangan hendaknya lebih mempergunakan sistem nilai relatif, sehingga tidak bertindak membabi buta, dengan catatan hal itu juga harus diberikan alasaan-alasan yang benar.
Menyangkut kejujuran, misalnya, kedua sistem nilai tersebut juga tentu akan membawa konsekuensi sikap yang berbeda. Jika berpatokan pada sistem nilai absolut, seseorang dalam situasi apapun pasti menganggap bahwa jujur merupakan perbuatan yang wajib dilakukan tanpa pengecualian. Inilah gagasan Kant tentang imperatif kategoris, yaitu kewajiban yang berlaku mutlak dengan sendirinya dalam keadaan dan kondisi apapun. Lain halnya jika berpedoman pada sistem nilai relatif, maka jujur merupakan suatu hal yang perlu pertimbangan karena terkait dengan situasi dan kondisi tertentu. Untuk itu salah seorang tokoh etika deontologis, William David Ross, menyusun urutan beberapa daftar prioritas kewajiban. Berdasarkan pemikirannya, jujur dalam konteks tersebut hanyalah kewajiban-sementara-waktu (prima facie), yang akan gugur jika ada kewajiban yang lebih penting karena berkaitan dengan berbagai bentuk kewajiban yang lain. Misalnya ketika dalam situasi terancam, berkata bohong adalah pilihan terbaik, maka berbohong lebih diutamakan ketimbang berkata jujur.

b. Pembelaan terhadap kaum lemah
Hakikat perjuangan Soe Hok Gie adalah melawan segala bentuk dehumanisasi, terutama yang diakibatkan oleh penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan orang yang berkuasa terhadap orang yang lemah. Soe Hok Gie secara tegas meneguhkan diri untuk membela rakyat yang tertindas, yaitu orang-orang yang selama ini diperlakukan bukan sebagaimana mestinya sebagai manusia. Ia berteriak, “Aku besertamu, orang-orang malang” (Gie, 2005: 69).
Soe Hok Gie, dalam catatan hariannya tanggal 10 Desember 1959, menceritakan bahwa ia bertemu dengan seorang (bukan pengemis) yang sedang memakan kulit mangga karena kelaparan, maka ia segera memberikan seluruh uang yang ia punya karena merasa kasihan (Gie, 2005: 69). Berdasarkan pandangan Kant, tindakan yang dilakukan Soe Hok Gie tersebut baru berupa benih-benih dari kesadaran moralnya, belum dapat digolongkan sebagai tindakan moral secara utuh karena berdasarkan pada kecenderungan spontan berupa perasaan kasihan. Menurut Kant, suatu tindakan baik secara moral kalau dilakukan semata-mata karena kewajiban, bukan karena ada dorongan dari luar dirinya (Tjahjadi, 1991: 51).
Tindakan Soe Hok Gie di atas tidak terlepas dari tanggung jawabnya sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Menempatkan manusia sebagai individu, maka penting untuk mengakui sumbangan paham imperatif kategoris Kant tentang arti “manusia sebagai tujuan”. Menurut Ross, manusia sebagai individu adalah makhluk yang sangat istimewa karena mempunyai “nilai intrinsik” dalam dirinya, yakni martabat sehingga manusia mempunyai nilai “mengatasi segala harga” dibanding makhluk hidup yang lain. Karenanya, manusia tidak boleh digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan, atau dikorbankan demi kepentingan manusia yang lain. Manusia adalah tujuan moral itu sendiri (Rachels, 2004: 234).
Menyangkut kedudukan manusia sebagai makhluk sosial, sumbangan penting ajaran imperatif kategoris Kant berkaitan dengan prinsip “hukum umum”. Menurut Kant, prinsip “hukum umum” ini berlaku universal dalam kehidupan. Inilah sumbangan ajaran Kant dalam dimensi sosial. Dimensi sosial yang dimaksud adalah kepeduliannya pada nilai-nilai kemanusiaan yang menyangkut sosialitas manusia secara umum, bukan sosialitas yang sering dipersempit menjadi nilai-nilai lokal yang relatif (Sudiarja, 2007: 10).
Arti kemanusiaan secara luas juga mendapatkan kedudukan yang begitu penting di mata Soe Hok Gie. Kemanusiaan menurutnya adalah prasyarat dasar dalam menjalani kehidupan secara moral. Ia menyadari kewajiban moralnya untuk selalu membela dan mencintai sesama, terutama orang-orang yang lemah. Ia secara sadar menganggap bahwa dalam hidup, rasa cinta berupa solidaritas sosial merupakan suatu hal yang sangat berharga dalam diri manusia, yang membedakan manusia dari makhluk yang lain, yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih bermakna:

“Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: “dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasakan kedukaan”. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih dari benda. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Kalau kita kehilangan itu maka absurd lah hidup kita” (Gie, 2005: 91).

Untuk mengasah rasa kepeduliannya terhadap sesama, Soe Hok Gie memilih untuk mendaki gunung. Menurut Soe Hok Gie, seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat jika ia mengenal akan objeknya. Oleh karena itu, seseorang harus mengenal masyarakat kecil dan alam secara langsung dari dekat, sebab solidaritas tidak tumbuh dari slogan-slogan dan hipokrasi (Gie, 1999: 32). Gunung yang jauh dari berbagai fasilitas dan kemewahan, serta penuh dengan tantangan merupakan tempat yang baik untuk menguji keteguhan hati seseorang, apakah termasuk orang yang egois atau orang yang peduli terhadap sesama. Perjalanan menuju puncak gunung adalah sarana interaksi yang sangat baik dengan masyarakat (Gie, 1999: 260).

c. Perlawanan terhadap kekuasaan dan penyingkiran sosial
Sebenarnya, terkait perlawanan Soe Hok Gie atas kekuasaan, secara sederhana menyangkut dua hal, yaitu sikapnya terhadap rezim yang berkuasa dan sikapnya sendiri tentang bagaimana cara menghadapinya. Yang pertama bukan hanya berkaitan dengan masalah melawan rezim itu, tapi juga menyangkut masalah apakah ia harus melibatkan diri atau tidak secara massif. Sedang yang kedua lebih menyangkut metode atau taktik yang akan ia gunakan untuk melawan rezim itu. Dengan demikian, menurut penulis, membicarakan perlawanan Soe Hok Gie atas kekuasaan tidak lain adalah gabungan dari dua hal tersebut.
Perjuangan Soe Hok Gie dalam melawan kekuasaan tidak perlu diragukan lagi. Ia rajin menulis kritik di media massa mengenai perilaku elit politik dan teman-temannya secara tajam, bahkan kadang dengan menyebut nama secara langsung. Akibatnya, banyak lawan maupun temannya memusuhi dan membencinya, bahkan ia diasingkan dari pergaulan. Namun, ia tetap memilih berteriak ketimbang diam dan menutupi keadaan yang sesungguhnya. Hati kecilnya memilih kemanusiaan dari pada menikmati kekuasaan di tengah kehidupan masyarakat yang penuh dengan ketidakpastian.

“Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan dari pada menyerah terhadap kemunafikan” (Gie, 2005: 166).

Begitu besar resiko yang ditanggung Soe Hok Gie, banyak orang memilih untuk tidak berhubungan secara kekeluargaan atau tidak ingin menjadi bagian dari kehidupan pribadinya. Hal itu terlihat misalnya dari sikap orang tua dari perempuan yang dekat dengan Soe Hok Gie. Secara pribadi, mereka sangat menghargai dan kagum pada sikap dan keberanian Soe Hok Gie dalam melawan kekuasaan yang otoriter. Tetapi, ketika anaknya mau dilamar oleh Soe Hok Gie, mereka menolak karena tahu resiko besar yang ada padanya. Soe Hok Gie pun menyadari hal itu, “Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan saya” (Budiman, 2005: xxii).
Meski berbagai penderitaan mendera hidupnya, Soe Hok Gie tetap tidak menyerah. Bagi Soe Hok Gie, semua itu adalah resiko yang harus dihadapi oleh setiap orang yang memilih melawan kekuasaan untuk mewujudkan hidup yang lebih manusiawi. Ia menyadari bahwa dirinya bukan satu-satunya orang yang memilih jalan itu, karena menurutnya cita-cita ideal sebenarnya ada pada setiap orang dan menjadi garis penghubung antar sesama. Oleh karena itu, ia merasa bahwa perjuangan yang dilakukannya hanya sebagian kecil saja dari perjuangan yang seharusnya ia lakukan di sepanjang kehidupan.

“Tetapi hendaknya aku selalu mengingat kata-kata Sjahrir: “Penderitaanku hanyalah sebagian kecil saja dari penderitaan berjuta-juta rakyat yang lain” dan seterusnya. Dan perjuanganku ini hanyalah sebagian kecil saja dari perjuangan di sepanjang waktu dan di sepanjang muka bumi…Ada yang menggariskan (suatu ideal) antara siapa saja yang berjuang bagi suatu hidup dan pengertian yang lebih baik” (Gie, 2005: 104).

Terbukti ketika perjuangannya untuk mengganti rezim yang korup tercapai, Soe Hok Gie kembali ke kampus dan tetap menjalani kehidupan sebagai intelektual yang bebas dan kritis. Ketika teman-temannya sesama aktivis angkatan ’66 memilih ikut menikmati kekuasaan dalam roda pemerintahan Orde Baru, ia tetap konsisten dan tidak tertarik dengan iming-iming kekuasaan yang menjanjikan kesuksesan secara finansial. Sepanjang hidupnya, ia menolak tunduk terhadap kekuasaan meski secara sosial ia terasing. Menurutnya, “Seorang intelektual tidak boleh mengejar kekuasaan, tetapi harus selalu mencanangkan kebenaran dan bersedia pula menghadapi ketidakpopuleran. Ada sesuatu yang lebih besar: kebenaran” (Gie, 2005: 173).
Sikap Soe Hok Gie tersebut dapat dianalisis dengan meminjam pemikiran Kant tentang dua jenis tindakan. Kant (dalam Tjahjadi, 1991: 51-52) membagi jenis tindakan ke dalam dua kategori, yaitu tindakan yang “sesuai dengan kewajiban” dan tindakan yang dilakukan “demi kewajiban”. Tindakan yang “sesuai dengan kewajiban” adalah tindakan yang dilakukan bukan karena kecenderungan langsung (umpamanya: perasaan kasihan, rasa takut), dan bukan karena kewajiban itu sendiri, tetapi karena kepentingan lain. Sedangkan tindakan “demi kewajiban” adalah tindakan yang dilakukan semata-mata karena kewajiban itu sendiri, bukan karena tujuan-tujuan yang lain.
Berdasarkan kategori Kant tentang dua jenis tindakan di atas, menurut hemat penulis, sikap Soe Hok Gie yang memilih untuk selalu melawan kekuasaan yang korup dan sewenang-wenang, serta mengabaikan berbagai ancaman dan kerugian yang menghadang langkahnya—seperti penyingkiran sosial, dapat digolongkan sebagai tindakan “demi kewajiban”, mengingat pada kenyataannya ia tidak pernah menyerah untuk terus menerus memperjuangkan kemanusiaan demi kemanusiaan itu sendiri—sebagai kesadaran atas kewajiban moralnya.

d. Penolakan terhadap kejahatan dan ketidakadilan
Keadaan masyarakat di era Demokrasi Terpimpin presiden Sukarno semakin terpuruk dalam kondisi yang memprihatinkan, sehingga kaum intelektual Indonesia mengalami dilema tentang peran apa yang harus mereka ambil terhadap keadaan tersebut. Soe Hok Gie menganggap bahwa kaum intelektual harus berbuat sesuatu untuk ikut mencarikan jalan keluar atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Ia mengecam para intelektual yang diam berpangku tangan melihat kejahatan dan ketidakadilan.

“Bidang seorang sarjana adalah berpikir dan mencipta yang baru. Mereka harus bisa bebas di segala arus-arus masyarakat yang kacau. Seharusnya mereka bisa berpikir tenang karena predikat kesarjanaannya itu (atau walaupun mereka bukan sarjana). Mereka tidak bisa terlepas dari fungsi sosialnya, ialah bertindak demi tanggung jawab sosialnya bila keadaan mendesak. Kelompok intelektual yang terus berdiam dalam keadaan yang mendesak telah melunturkan semua kemanusiannya” (Gie, 2005: 110-111).

Sebenarnya, menyangkut peran apa yang harus diambil oleh para intelektual terhadap kejahatan dan tidakadilan yang dialami masyarakat merupakan persoalan yang sangat klasik menyangkut persoalan antara moral dan politik. Beberapa intelektual terkemuka Indonesia telah memberikan pandangan menyangkut hal itu, salah satunya adalah Soedjatmoko. Menurut Soedjatmoko (1984: 234-236), persoalan sikap intelektual terhadap kejahatan dan ketidakadilan yang dialami masyarakat masih menyangkut dilema berkaitan dengan kekuasaan itu sendiri. Dalam arti, seberapa jauh seorang intelektual mempunyai ide-ide yang jernih mengenai masa depan negaranya, maka ia akan tergoda oleh kekuasaan sebagai sesuatu alat untuk mencapai ide-idenya. Sementara di lain pihak, sebagian besar intelektual memilih berada di luar kekuasaan untuk menjaga integritasnya supaya mampu menjaga keseimbangan antara negara dan masyarakat.
Secara singkat dapat penulis simpulkan bahwa, berdasarkan pandangan Soedjatmoko di atas, persoalan yang sebenarnya mengenai sikap mahasiswa atas berbagai kejahatan dan ketidakadilan adalah berkaitan dengan dilema moral yang ada pada mahasiswa itu sendiri. Hal demikian terjadi karena ada dua kelompok di dalam gerakan mahasiswa: pertama, kelompok mahasiswa yang bergerak atas aspek perjuangan moral dengan ukuran benar dan salah. Kedua, kelompok mahasiswa yang bergerak atas perhitungan politik praktis dengan pertimbangan antara yang kuat dan yang lemah.
Soe Hok Gie adalah representasi kelompok pertama. Bagi Soe Hok Gie, gerakan mahasiswa adalah gerakan moral (moral force) yang tidak mendasarkan perjuangannya pada pertimbangan dan hitung-hitungan politik praktis. Ia mengibaratkan perjuangan mahasiswa seperti perjuangan seorang cowboy. Seorang cowboy datang ke sebuah wilayah yang penuh gejolak, di mana kejahatan dan ketidakadilan merajalela. Cowboy itu kemudian menantang sang bandit berduel dan akhirnya menang. Setelah keadaan wilayah itu aman, ia menghilang karena tidak ingin sanjungan dari penduduk wilayah itu. Menurut Soe Hok Gie, gerakan mahasiswa seharusnya seperti cowboy yang baik itu, yakni berjuang tanpa pamrih untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan (Gie, 2005: 34).
Pada fase inilah, yakni saat Soe Hok Gie menjalankan tanggung jawab sebagai seorang intelektual dengan melibatkan diri secara langsung dalam aksi demonstrasi mahasiswa menolak berbagai kejahatan dan ketidakadilan, serta menuntut perbaikan kualitas kehidupan masyarakat, ia sudah memenuhi kewajiban moralnya sebagaimana dipahami oleh Kant. Ia melakukan tindakan itu semata-mata memenuhi panggilan moralnya berupa kehendak baik, bukan untuk membangun popularitas atau untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Dengan demikian, ia telah menjalankan tuntunan moralnya berupa imperatif kategoris, yakni melakukan sesuatu berdasarkan tujuan objektif.

e. Pengujian atas kebenaran yang (di)resmi(kan)
Manusia harus selalu mempertanyakan kebenaran dari setiap hal dan kenyataan yang ada, seperti kebenaran dari doktrin agama dan politik. Soe Hok Gie, sebagai seorang yang sangat sekuler, mempunyai pemahaman keagamaan yang demikian liberal. Menurutnya, manusia adalah penentu atas nasibnya sendiri, dalam arti, Tuhan datang tidak untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi manusia, melainkan manusia itu sendiri yang harus mencari jalan keluar guna menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapinya. Dengan kata lain, ia hanya percaya peran Tuhan sejauh sesuai dengan idealisasinya. Hal itu tercermin dari kritiknya yang menarik terhadap penghayatan keberagamaan seseorang yang cenderung fatalis:

“Kita harus toleran dan jujur pada diri sendiri. Saya kasihan pada orang yang hipokrit dan menyerahkan segala-galanya pada Tuhan. Seolah-olah Tuhan adalah jawaban dari semua yang tidak jelas. Bagi saya setiap orang harus kreatif dan kepercayaan yang baik timbul dari pergumulan yang terus-menerus antara yakin dan kesangsian. Mereka yang tahu artinya ragu-ragu akan dapat kepercayaan yang besar” (Gie, 2005: 186-187).

Demikian pula menyangkut kebenaran yang berasal dari doktrin politik, Soe Hok Gie secara kritis mempertanyakan anggapan umum tokoh politik saat itu yang menjalankan konsep Manipesto Politik (Manipol) presiden Sukarno begitu sakral seperti agama baru. Akibatnya, siapa saja yang menentang Manipol akan dicap anti kebenaran. Menurut Soe Hok Gie, slogan-slogan kebenaran dari Manipol, Sosialisme, dan semboyan-semboyan revolusi lainnya tidak lebih dari doa-doa yang dikira mujarab ketika diucapkan orang begitu saja. Apakah slogan-slogan revolusi itu terbukti mampu memperbaiki kehidupan Indonesia? Soe Hok Gie tegas menjawab:

“Bagiku jelas tidak. Aku juga menerima Pancasila dan Manipol secara jujur. Tetapi bagiku ia lebih merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan sebagai cita-cita dari Indonesia. Bila Manipol dan Pancasila hanya slogan saja maka halnya akan menjadi lain. Soalnya sekarang kita harus mengisi makna dari cita-cita ini untuk mencapai tujuan revolusi” (Gie, 2005: 120)

Soe Hok Gie, lebih lanjut menegaskan bahwa pencarian dan pengujian akan kebenaran harus terus-menerus diupayakan secara berani dan bersandar pada kebebasan manusia itu sendiri. Kebebasan dimaknainya sebagai pergumulan yang terus-menerus dengan permenungan, pertimbangan, dan keragu-raguan, juga dengan berbagai rintangan dan penghalang untuk menemukan kebenaran seperti otoritas. Menurutnya, manusia tidak akan menemukan kebenaran jika terus tunduk pada otoritas di luar dirinya secara membabi buta tanpa kritik. Karena kebenaran tidak datang dalam bentuk instruksi dari siapa pun, tetapi harus dihayati secara kreatif, “A man is as be thinks” (Gie, 1999: 130).
Pemikiran Soe Hok Gie ini sejalan dengan pemikiran Kant menyangkut otonomi manusia dalam kaitannya dengan konsep otoritas. Menurut Kant, otoritas manusia sungguh sangat dihargai dalam menentukan mutu dirinya. Seseorang yang mampu menjalankan moral secara sadar adalah orang yang otonom, yang bertindak atas pertanggungjawaban dirinya sendiri dan tidak melemparkan tanggung jawab pada orang lain yang memberi perintah dari luar dirinya. Oleh karena itu, menurut Kant tindakan manusia yang pantas disebut tindakan moral adalah yang selalu mengikuti “hukum moral” yang sudah tertulis dalam hatinya, sementara ia sadar akan kebebasan yang dimilikinya (Sudiarja, 2007: 8).
Orang yang berhasil membebaskan diri dari hegemoni tafsir kebenaran yang berasal dari otoritas di luar dirinya, baik yang berasal dari doktrin agama atau politik, sebagaimana ditunjukkan oleh Soe Hok Gie, merupakan manusia yang mampu mendobrak kesadaran moral heteronom. Moral heteronom sendiri menurut Kant adalah moralitas yang bersumber dari perintah, teguran, dan paksaan dari luar diri seseorang, sehingga orang itu mempercayai dan melakukan sesuatu karena perasaan takut dan berbagai pertimbangan lain. Heteronomi moral merendahkan kedudukan manusia karena membelenggu kebebasannya, hal itu merupakan bentuk dari penyimpangan sikap moral yang sebenarnya otonom.
Dalam konteks inilah, pencarian Soe Hok Gie atas kebenaran mempunyai arti yang sangat menentukan menyangkut martabatnya sebagai makhluk yang rasional. Soe Hok Gie dengan menggunakan rasionya telah berusaha untuk membebaskan diri dari kesewenang-wenangan irasionalitas moral dalam menentukan kebenaran, untuk menemukan nilai kebenaran yang lebih memberikan tempat pada kemanusiaan.

f. Penyesuaian perbuatan dengan keyakinan
Berdasarkan rumusan pemikiran Soe Hok Gie menyangkut beberapa sikap etis di atas, menurut hemat penulis, pada dasarnya ia ingin mengatakan bahwa seseorang dalam melakukan suatu tindakan harus sesuai dengan keyakinan hatinya. Keyakinan yang dimaksud bukan sesuatu yang datang begitu saja atau karena perintah dan instruksi dari orang lain, tetapi hasil permenungan dan pencarian akan hakikat kebenaran yang merupakan pergulatan terus menerus antara keyakinan dan keraguan.
Dalam bahasa Kant, sikap Soe Hok Gie itu dikenal dengan nama moralitas. Moralitas adalah kesesuaian antara sikap dan perbuatan seseorang dengan norma atau hukum batiniah yang ada padanya, yang dipandang sebagai kewajibannya. Moralitas hanya tercapai kalau seseorang menaati hukum lahiriyah karena menyadari bahwa hukum itu kewajiban moralnya, bukan karena menguntungkan atau takut pada orang yang memberi kuasa atas hukum. Dengan kata lain, moralitas tidak memberi tempat pada berbagai dorongan lain (rasa takut atau demi mendapat keuntungan misalnya) di luar kewajiban. Inilah yang dirumuskan Kant dengan “berbuatlah hanya menurut dorongan-dorongan yang diberikan budi kepadamu!” (Tjahjadi, 1991: 47).
Rumusan Kant di atas yang demikian kaku menyebabkan dirinya dicap sebagai rigorisme moral, dan sejalan dengan itu berbagai kritik tajam muncul atas pemikirannya. Tetapi, menurut hemat penulis, adanya pertentangan tajam antara Kant dan para pengkritiknya justeru menunjukkan sesuatu yang penting, yaitu sikap atau kaidah tindakan orang lain tidak dapat kita nilai dengan pasti. Sebab apa yang kita lihat hanyalah apa yang secara lahiriyah kelihatan, yakni perbuatan atau tindakan orang tertentu. Dari tindakan orang yang lahiriyah dan kelihatan itu, kita tidak dapat mengetahui tekad batin atau maksud yang sebenarnya. Oleh karena itu, kita tidak mungkin sanggup memberi penilaian moral yang benar-benar objektif atau mutlak terhadap orang lain.
Dengan pemahaman yang demikian, perlu ditegaskan bahwa anggapan penulis terhadap sikap etis Soe Hok Gie sebagai prototipe dari etika deontologis, bukan dalam arti yang semena-mena, tetapi semata-mata dalam konteks berdasarkan pembacaan lahiriyah (sikap etis Soe Hok Gie yang ada dalam tulisan-tulisannya), tanpa berpretensi jauh bahwa hal itu benar secara batiniyah (meliputi hasrat, niat, dan maksud dari Soe Hok Gie).

Note: karena keterbatasan tempat, saya tidak bisa menampilkan tulisan ini secara utuh (termasuk bagian pengantar, riwayat hidup, landasan teoritik, dll.)

5. Manusia Makhluk Berdosa

Katekisasi GPIB

Katekisasi ke 17

Sabtu, 17 Jan. 2004

Manusia Makhluk berdosa

Dalam pelajaran yg lalu telah dijelaskan bhw Allah mencipotakan manusia utuh, sempurna dan baik. Manusia diberikan nafas hidup oleh Allah, menerima wewenang, kuasa serta tanggungjawab mengelola alam. Penulis kitab Kejadian juga menggambarkan ttg sifat manusia yg jahat yg memberontak kepada Allah yg mengakibatkan hubungan baik dengan Allah menjadi putus dan rusak. Manusia menjadi tidak setia kepada Penciptanya. Manusia jatuh ke dalam dosa karena ulahnya sendiri. Rasul Paulus menjelaskan hal ini dengan mengatakan : “tidak ada yang benar seorang pun tidak, semua telah berbuat dosa dan hilang kemuliaan Allah. (Roma 3: 10, 23.). Kata-kata Paulus ini dapat dipahami berdasarkan pemahaman bhw dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang (Roma 5 : 12) yg mengakibatkan semua orang menjadi berdosa. Penyebab dosa ini ialah …………….?
Manusia – sejak Adam dan hawa jatuh ke dalam dosa, ikut berdosa.. Dosa di sini tidak hanya dirumuskan sebagai “kejahatan” atau “kesalahan” saja, tetapi menyangkut “keeberadaan” – eksistensi dan “hakekat manusia” Yes. 29:13, Mat. 15:8,9. Dosa itu nampak melalui sikap hati yg menolak pengenalam akan Allah, emgakui Allah sbagai Juruslamat, Pemberi hidup dan khidupan bagi manusia dan makhluk ciptaan yg lain. Tidak itu saja tetapi dosa juga nampak dalam ketidak harmonisan manusia dengan sesamanya dan pngrusakkan alam ciptaan Allah. Dosa dapat dirumuskan juga dalam perbuatan yg menyimpang dari kebenaran dan kebaikan mnunjukkan sikap perlawanan terhadap Allah. Ini terjadi dalam diri seseorang yg mendorong dia untuk melakukan tidndakan bersalah yg membuat ia berada dalam kesulitan (Kej 4 :13)
Dosa dengan kata lain dapat diartikan sebagai “tidak tepat pada sasaran”. Karena itu setiap tindakan “baik” yg tidak kena pada sasaran adalah sia-sia (Rom 3 : 9 – 20). Manusia pada suatu saat bisa tidak berbuat dosa (Adam dan Hawa sebelum makan buah…… dann jatuh ke ……) Akan tetapi setelah kedua manusia I itu memakan buah maka pasti bahwa manusia “tidak bisa tidak…………..” manusia pasti berbuat dosa. Sebab :
Manusia tidak lagi tinggal di taman Edn. Mreka harus menjalani kodrat sebagai akibat dari kutukan Allah kepada Adam dan hawa.
Manusia memeeliki kecendrungan hati yg jahat sehingga kadang2 menolak jalan kembali kepada Allah.
Manusia yg telah mengetahui Firman Allah itu malah mengadakan perlawanan trhadapDia. Kritik Yesus teerhadap para ahli torat menjelaskan hal itu.
Pernyataan Yesus sendiri ttg kasih Allah supaya dunia tidak tetap tinggal dalam dosa ttapi mmperoleh keselamatan. Perbincanngan Yesus dengan Nicodemus si Parisi dalam Yoh. 3 merupakan penjelasan ttg kasih Allah kepada dunia ini. Dengan dmikian “dosa” bukanlah sebuah “insiden” kecelakaan” dan bukan pula sebuah perbuatan “kebetulah yg terpaksa” dilakukan manuysia, tetapi ia merupakan sikap hati yg jahat kepada Allah dan kepada sesama.. Dilakukan dalam kesadaran. Dosa terkait dengan isi kehedipan dan keberadaan manusia sehingga kita tidak bisa gampang mengatakan bhw itu hanya sebuah perbuatan yg “kebetulan” terjadi tanpa mngikutsertakan kesadaran kita .
Dosa bukan juga semata-mata tindakan jasmani belaka namun sikap ekspresif itu mencerminkan sikap hati manusia yg jahat. Kepada Allah.

 

 

 

Leave a Reply for Novia

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s