Filsafat Ilmu Pengetahuan


  1. Pengertian Filsafat

Filsafat berasal dari bahasa yunani yaitu philosophya yang di gabung oleh 2 kelompok kata yaitu kata philein (cinta) atau phylo (sahabat) dan sophos atau sophya (kebijaksanaan). Jadi, filsafat berdasarkan etismologi atau asal kata, adalah cinta akan kebijaksanaan.

Filsafat merupakan mother of science (induk dari ilmu pengetahuan) yang memiliki ciri : Radikal (sesuatu hal yang dipikirkan secara mendasar atau mendalam), Realitas (sesuatu yang nyata dapat ditangkap oleh panca indera manusia dan segala kemungkinan yang dapat di pikirkan oleh manusia, meskipun pikiran manusia lebih luas daripada indera manusia), Refleksi (kegiatan pikiran manusia yang menangkap, memikirkan dan merenungkan realitas dalam kesadarannya secara intensif), Kritis (segala informasi atau hal yang tidak di terima begitu saja sebagai sesuatu yang benar melainkan mempertanyakan kebenarannya), Logis (segala sesuatu yang diterima masuk akal), Integral (unsur unsur yang dimilikinya merupakan satu bagian yang tidak terpisahkan), Komprehensif (adanya kesatuan dengan unsur unsur yang saling berkaitan atau relevan), Sistematik (sesuatu hal yang bertahap dan teratur yang mampu di pertanggung jawab)

Asal mula filsafat, yaitu: 1.) Hasil interaksi makluk dengan alam yang mendatangkan pengalaman kengerian (bencana alam yang terjadi banyak menelan korban merupakan salah satu pengalaman kengerian yang di alami manusia) atau pengalaman kekaguman (kita akan kagum ketika melihat pemandangan yang indah seperti pelangi atau melihat orang yang berselancar di tengah ombak) dan merefleksikan pengalaman, pengamatannya dalam bentuk ketakjuban. 2.) Hasrat bertanya yang dialami manusia disebabkan oleh interaksi alam dengan manusia melalui berbagai pertanyaan agar mendapatkan jawaban yang mendasar dan mendalam. 3.) Jawaban yang di dapatkan berupa mitologi dari jaman sebelum masehi ( mitos gempa bumi di jepang di katakana bahwa, terjadinya gempa disebabkan oleh gerakan naga dalam tanah yang mengamuk sehingga terjadilah goncangan yang kuat di dalam tanah) mengakibatkan ketidakpuasan sehingga manusia berusaha menemukan jawaban yang lebih dalam, dasar, dan logis. 4.) Keragu-raguan di sebabkan oleh ketidakpastian yang mengakibatkan manusia untuk terdorong mencari jawaban yang lebih pasti

  1. Hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan

Ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan manusia dari hasil interaksinya dengan dunia empiris yang dapat di control dan di manfaatkan dalam kehidupan menggunakan matode keilmuan atau ilimiah.

Sehingga Ilmu pengetahuan yang fundamental yaitu pengabungan antara rationalisme (cara memperoleh ilmu pengetahuan dengan menggunakan pikiran saja) dan empirisme (cara memperoleh ilmu pengetahuan dengan mengandalkan respon dari objek yang dapat di tangkap oleh panca indera manusia saja) agar saling melengkapi dan menyempurnakannya.

 

Kelebihan berpikir secara keilmuan, yaitu logis (menggunakan akal sehat untuk berpikir dan bekerja), sistematis (tersusun secara teratur sehingga mudah di cerna), teruji kebenarannya (telah di uji coba), terbuka ( dapat dipublikasikan agar dapat ditanggapi dan dikritik oleh public sehingga ilmu dapat mengalami perkembangan), tersurat (ilmu dapat didokumentasikan ataupun dicetak). Sedangkan kelemahan berpikir secara keilmuan berdasarkan aspek epistemology adalah bertumpu pada asumsi persepsi (melalui kegiatan panca indera manusia yang dapat disesatkan), asumsi nalar dan asumsi ingatan yang amat terbatas tidak dapat selalu diandalkan sebagai cara memperoleh ilmu pengetahuan. Kelemahan berpikir secara keilmuan berdasarkan aspek ontology adalah hanya menelaah apa yang menjadi pengalaman empiris manusia padahal manusia juga memiliki pengalaman religious tentang Tuhan dan pengalaman mistis tentang alam gaib.

3 Ciri ilmu pengetahuan, yaitu Apa yang di telaah {mencari isi ilmu pengetahuan (ontologi)}, Matode memperoleh ilmu pengetahuan (cara memperoleh ilmu pengetahuan tersebut {epistemologi}), Manfaat ilmu pengetahuan (axiologi).

1Filsafat ilmu pengetahuan tentang refleksi kritis logis sistematis radikal tentang ilmu pengetahuan. Tujuan filsafat dan hubungannya dengan ilmu pengetahuan dengan ilmu pengetahuan dapat di gambarkan sebagai berikut: 1.) Memahami hakikat (ontologi) dari segala sesuatu objek yang menjadi kajiannya dan pengetahuan yang bisa dipertanggungjawabkan bukan hanya secara rasional, tetapi juga factual yang dialami langsung dalam kehidupan kita. Oleh sebab itu, filsafat harus mengadakan kontrak dengan ilmu pengetahuan, mengambil banyak informasi atau teori baru dan mengembangkannya secara filsafati. 2.) Mempersoalkan nilai dari suatu objek (aksiologi), akibatnya adalah temuan temuan ilimiah yang di nilai tidak sesuai dengan nilai nilai kemanusiaan di beri kritik dan koreksi. Filsafat memberikan evaluasi dan kritik terhadap dampak moral dan kemanusiaan kedua masalah tersebut bagi hidup manusia. 3.) Melakukan kajian dan kritik terhadap persoalan metodologi (epistemologi) ilmu pengetahuan untuk dapat menjenihkan dan menyempurnakan ilmu pengetahuan.

Tahap berpikir secara keilmuan yang tersusun secara sistematis, yaitu Merumuskan masalah (masalah merupakan inti dari kegiatan keilmuan dan menjadi titik tolak kegiatan penelitian keilmuan selanjutnya), Merumuskan hipotesa (dugaan sementara mengenai hubungan antara unsure yang terkandung di dalam masalah), Deduksi atas hipotesa (menerapkan dalam kehidupan nyata hasil dugaan tersebut), Pengujian atas hipotesa atau teori (asas fundamental kegiatan keilmuan yang membedakanya dari pengetahuan kehidupan sehari hari).

Perbedaan antara filsafat dan ilmu pengetahuan:

a.) Filsafat membahas tentang hakikat, sebab akibat, asal usul, dan prediksi kedepannya, sedangkan ilmu pengetahuan tentang dinamika, kuantifikasi, persentasi dan frekuensi.

b.) Ruang lingkung filsafat sangat luas sejauh yang dapat di pikirkan, sedangkan ruang lingkup ilmu pengetahuan terbatas pada gejala atau aspek tertentu sejauh yang dapat di ukur secara empiris.

c.) Matode filsafat yaitu logis dan rasional sedangkan ilmu pengetahuan ilimiah mencakup rasional, empiris, dan terukur.

d.) Focus kajiannya fakta dan nilai sedangkan ilmu pengetahuan fakta dalam ilmu pengetahuan murni.

e.) Teori dalam filsafat itu dalam, luas dan kritis karena menyangkut soal nilai, sedangkan ilmu pengetahuan khusus dalam IPS terbatas pada populasi dan kelas objek yang di teliti.

 

 

  1. Dimensi atau aspek ontologi ilmu pengetahuan

2Ontologi membicarakan hakikat sesuatu yang ada. Istilah ontologi berasal dari bahasa yunani yaitu taonta (yang ada) dan logos (ilmu pengetahuan/ ajaran). Jadi, ontologi adalah ilmu pengetahuan atau ajaran yang ada. Dasar dari ontology ilmu adalah pengalaman empiris manusia (pengalaman yang dapat di tangkap oleh panca indera manusia).

3 asumsi (pengandaian) mengenai obyek empiris, yaitu:

a)       Benda benda empiris memiliki keserupaan satu sama lain, sehingga manusia dapat melakukan penggolongan/ klasifikasi pada benda empiris tersebut (pengelompokan zat nikel, emas, perak, dsb kedalam kategori logam karena memiliki sifat yang sama yaitu pengantar listrik dan memuai jika di panaskan).

b)       Benda benda empiris membutuhkan waktu untuk berubah (tujuan perubahan benda empiris itu untuk memudahkan manusia mempelajarinya), karena semua benda empiris memiliki 1 sifat yaitu tidak kekal sehingga akan punah pada waktu tertentu.

c)        Determinisme (adanya kejadian yang mendahului peristiwa sebelumnya, agar peristiwa alam tersebut memiliki hubungan timbal balik atau hubungan sebab akibat), contohnya seorang mahasiswa tidak dapat menyelesaikan soal ujiannya karena dia tidak mempersiapkannya sebelumnya karena alasan tertentu.

 

  1. Dimensi atau aspek epistemologi ilmu pengetahuan

3Secara etimologi, istilah epistemologi berasal dari bahasa yunani yaitu episteme (pengetahuan) dan logos (ilmu atau teori), jadi, epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang sumber, struktur, matode, dan validitas pengetahuan. Matode dalam teori pengetahuan adalah

a)       Matode induktif, adalah matode yang menyampaikan pernyataan hasil observasi dan di simpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umum (pengambilan kesimpulan dari hasil survei). Membuktikan hasil teori atau hukum yang telah di ujicobakan.

b)       Matode deduktif, adalah matode yang menyimpulkan atau membandingkan data data empiris yang di olah lebih lanjut dalam suatu system pernyataan yang runtut dan dapat menerapkannya dalam kehidupan secara kongkrit.

c)        Matode positivism, adalah matode yang hanya berpangkal pada apa yang telah di ketahui/benda yang ada.

d)       Matode kontemplatif, adalah matode intuisi yang merupakan pengembangan dari akal manusia karena adanya keterbatasan indera dan akal manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuansehinggal objek yang di hasilkan tidak akan berbeda beda.

e)       Matode dialektetis, yaitu melalui kegiatan Tanya menjawab untuk mencapai kejernihan filsafat.

 

 

3. Dimensi atau aspek axiologi ilmu pengetahuan

4Axiologi berasal dari bahasa yunani yaitu axios (nilai) dan logos (ilmu atau teori). Jadi, axiologi adalah teori tentang nilai. Axiologi ilmu pengetahuan mengarah pada penerapan, kegunaan/manfaat ilmu pengetahuan tersebut, apakah memiliki moral dan nilai yang baik/buruk pada hakikat manusia karena menyangkut tentang etika dan estetika secara universal. Aspek aksiologi ilmu berhubungan dengan nilai kegunaan ilmu dimana hakekat ilmu tersebut merupakan kumpulan pengetahuan yang bergunabagi manusia untuk memahami, menjelaskan,mengontrol, dan memanfaatkan benda benda empiris atau gejala gejala alam bagi kehidupan manusia. Jadi ilmu teknologi merupakan sarana untuk membantu manusia mencapai tujuan hidupnya.

Filsafat ilmu axiology menyelidiki dampak pengetahuan ilimiah pada hal:

a)       Persepsi atau pandangan manusia akan kenyataan

b)       Pemahaman berbagai dinamika alam

c)        Saling keterkaitan antara logika dan matematika pada satu sisi dengan kenyataan sisi lain

d)       Berbagai keadaan dari keberadaan teoritis

e)       Berbagai sumber pengetahuan dan pertanggungjawabannya

f)        Hakikat manusia, nilai nilainya, dan tempatnya di tengah semua keberadaan lain di lingkungan dekatnya.

Kesimpulannya :

Ilmu hanya bersifat netral yang tidak mengenal sifat baik atau buruk karena terikat pada kaidah kaidah keilmuan itu sendiri. Pemilik pengetahuan yaitu ilmuan yang seharusnya memiliki sikap moral yang baik sehingga tidak menyalahgunakan ilmu itu untuk merubah hakikat manusia menjadi buruk. Ilmuan terikat moral dalam menentukan apa yang ditelaah dan dikembangkan (ontology ilmu), cara ilmu bekerja, matode ilimiah yang dipilih (epistemology ilmu), dan bagaimana ilmu tersebut di gunakan (aksiologi ilmu).

 

Leave a Reply for Novia

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s