Deontologi


Deontologi didasarkan pada aturan aturan dan prinsip prinsip yang mengarahkan pengambilan keputusan etika bisnis oleh si pebisnis.
Moralitas keputusan tersebut di ukur dari kebenaran dan kebaikan .
Aturan aturan atau prinsip prinsip itu adalah
1. Moralitas sebuah proses pengambilan keputusan tidak hanya bergantung pada hasil akhir atau konsekuensinya melainkan sudah merupakan kewajiban bahwa semua pebisnis harus melaksanakan kewajiban yang telah digariskan oleh aturan yang bertujuan baik tersebut.
2. Aliran deontologi sangat didukung oleh Immanuel Kant (1724-1804). Konsep konsep moral yang paling penting haruslah didukung oleh good-will (kemauan baik pebisnis sendiri).
Perbuatan tidak boleh dihalalkan karena tujuannya demi menghasilkan sesuatu yang baik. Semua orang harus mendasarkan pertimbangan bisnisnya pada kebenaran yang bertujuan baik. Hal tersebut merupakan kewajiban moral. (Deon = kewajiban » Yunani ).
3. Deontologi menurut Immanuel Kant adalah imperativus kategoris atau sebuah perintah tak bersyarat ( mutlak, du sollst = engkau sudah seharusnya wajib melakukan yang baik).
Misalnya saya mengirimkan pesanan pesanan pelanggan perusahaan, saya harus dan sudah seharusnya begitu / mutlak mengirimkan barang yang baik sekalipun tidak diawasi oleh supervisior atau pengawas dari pelanggan tersebut.
4. Deontologi juga didukung oleh aliran agamais dalam bidang ekonomi dan bisnis, bahkan aturan aturan dalam bisnis seperti jangan berdusta, jangan mencuri, jangan menipu, dianggap sebagai perintah Tuhan dalam menjalankan bisnis. Berbisnis harus jujur berbisnis dengan hati nurani.
5. Aliran deontologis juga disebut aliran universalisme. Konsep berbisnis adalah perbuatan yang baik haruslah menjadi tindakan nyata dan menjadi “man-kind” (kebaikan dasar pebisnis dalam situasi apapun dan dimanapun).
Pebisnis merasakan kepuasan batin bukan karena banyak untung tetapi puas karena berbisnis dengan jujur dan usahanya memperoleh laba.
Perbuatan demi hukum saja belum cukup dikatakan baik secara moral. ”
Moralitas tidak hanya dari segi lahiriah tetapi juga segi batiniah” (motivasi terdalam).

Keberatan terhadap deontologi :
1. Tidak semua pebisnis mampu merumuskan secara tegas atau jelas tentang bagaimana atau mengapa aturan aturan dan prinsip prinsip bisnis yang beretika baik.
2. Proses bisnis biasanya berjalan panjang sehingga hasil akhir belum dapat diprediksi.
3. Sulit mengetahui apakah “motivasi ” yang sebenarnya didalam “good-will”.
Apakah good-will itu?

Posted from WordPress for BlackBerry Novia.

Leave a Reply for Novia

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s