Etika Bisnis


Nama  : Novia Santonio

STB                         : 1113062

Kelas                     : Akuntansi B

Mata Kuliah        : Etika Bisnis

Judul Kasus         : Etika Bisnis Indomie di Taiwan

Sumber Kasus   : http://novrygunawan.wordpress.com

KASUS ETIKA BISNIS INDOMIE DI TAIWAN

Kasus Indomie yang mendapat larangan untuk beredar di Taiwan karena disebut mengandung bahan pengawet yang berbahaya bagi manusia dan ditarik dari peredaran. Zat yang terkandung dalam Indomie adalah methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam benzoat). Kedua zat tersebut biasanya hanya boleh digunakan untuk membuat kosmetik. Pada hari Jumat (08/10/2010) pihak Taiwan telah memutuskan untuk menarik semua jenis produk Indomie dari peredaran.  Di Hongkong, dua supermarket terkenal juga untuk sementara waktu tidak memasarkan produk dari Indomie.

Kasus Indomie kini mendapat perhatian Anggota DPR dan Komisi IX akan segera memanggil Kepala BPOM Kustantinah. “Kita akan mengundang BPOM untuk menjelaskan masalah terkait produk Indomie itu, secepatnya kalau bisa hari Kamis ini,” kata Ketua Komisi IX DPR, Ribka Tjiptaning, di  Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (12/10/2010). Komisi IX DPR akan meminta keterangan tentang kasus Indomie ini bisa terjadi, apalagi pihak negara luar yang mengetahui terlebih dahulu akan adanya zat berbahaya yang terkandung di dalam produk Indomie.

Dessy Ratnaningtyas, seorang praktisi kosmetik menjelaskan, dua zat yang terkandung di dalam Indomie yaitu methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam benzoat) adalah bahan pengawet yang membuat produk tidak cepat membusuk dan tahan lama. Zat berbahaya ini umumnya dikenal dengan nama nipagin. Dalam pemakaian untuk produk kosmetik sendiri pemakaian nipagin ini dibatasi maksimal 0,15%.

Ketua BPOM Kustantinah juga membenarkan tentang adanya zat berbahaya bagi manusia dalam kasus Indomie ini. Kustantinah menjelaskan bahwa Indomie mengandung nipagin, yang juga berada di dalam kecap dalam kemasam mie instan tersebut, tetapi kadar kimia yang ada dalam Indomie masih dalam batas wajar dan aman untuk dikonsumsi, lanjut Kustantinah.

Tetapi bila kadar nipagin melebihi batas ketetapan aman untuk di konsumsi yaitu 250 mg/kg untuk mie instan dan 1.000 mg/kg nipagin dalam makanan lain kecuali daging, ikan dan unggas, akan berbahaya bagi tubuh yang bisa mengakibatkan muntah-muntah dan sangat berisiko terkena penyakit kanker.

Menurut Kustantinah, Indonesia yang merupakan anggota Codex Alimentarius Commision, produk Indomie sudah mengacu kepada persyaratan Internasional tentang regulasi mutu, gizi dan kemanan produk pangan. Sedangkan Taiwan bukan merupakan anggota Codec. Produk Indomie yang dipasarkan di Taiwan seharusnya untuk dikonsumsi di Indonesia. Dan karena standar di antara kedua negara berbeda maka timbulah kasus Indomie.

Pembahasan Kasus Etika Bisnis Indomie di Taiwan

Sudut pandang ekomoni :

Dalam mekanisme pasar bebas diberi kebebasan luas kepada pelaku bisnis untuk melakukan kegiatan dan mengembangkan diri dalam pembangunan ekonomi. Disini pula pelaku bisnis bersaing untuk berkembang mengikuti mekanisme pasar. Dalam persaingan antar perusahaan terutama perusahaan besar dalam memperoleh keuntungan sering kali terjadi pelanggaran etika berbisnis bahkan melanggar peraturan yang berlaku. Apalagi persaingan produk impor dari Indonesia yang ada di Taiwan. Karena harga yang lebih murah serta kualitas yang tidak kalah dari produk-produk lainnya.

Sudut pandang moral :

Dalam kasus ini taiwan melarang peredaran indomie di negaranya karena indomie mengandung bahan pengawet berbahaya. Zat yang terkadung dalam indomie adalah methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam benzoat). Kedua zat tersebut biasanya hanya boleh digunakan untuk membuat kosmetik, dan pada hari Jumat (08/10/2010) pihak Taiwan telah memutuskan untuk menarik semua jenis produk Indomie dari peredaran. Di Hongkong, dua supermarket terkenal juga untuk sementara waktu tidak memasarkan produk dari Indomie. Sedangkan pemerintah sendiri belum mengetahui adanya zat berbahaya dalam indomie. Sehingga Anggota DPR dan Komisi IX memanggil Kepala BPOM untuk dimintai keterangan tentang masalah tersebut.

Sudut pandang hukum :

Kepala BPOM membenarkan tentang adanya zat berbahaya bagi manusia dalam kasus indomie ini. Zat itu terkadung dalam kecap dan kemasan mie instan tersebut, tapi kadar kimia yang ada dalam indomie masih dalam batas wajar untuk di konsumsi.

Menurut Kepala BPOM, Indonesia yang merupakan anggota Codex Alimentarius Commision, produk Indomie sudah mengacu kepada persyaratan Internasional tentang regulasi mutu, gizi dan kemanan produk pangan. Sedangkan Taiwan bukan merupakan anggota Codex sehingga standar keamanan pangannya berbeda dengan Negara yang merupakan anggota dari Codex Alimentarius Commision. Produk Indomie yang dipasarkan di Taiwan seharusnya untuk dikonsumsi di Indonesia. Dan karena standar di antara kedua negara berbeda maka timbulah kasus ini.

Teori Etika Bisnis

Pengertian Etika

Etika berasal dari bahasa yunani yaitu Ethos yang artinya aturan, patokan (harga yang ditentukan), ajaran (keluarga, agama, perusahaan, iman (faith)), cabang ilmu filsafat.

Filsafat terdiri dari kata Philo (saya mencintai) dan Sophia (kebijaksanaan, luhur, tinggi). Secara terminologis filsafat adalah refleksi kritis, logis, sistematis, radikal tentang realitas.

Sifat-sifat filsafat yaitu

  1. Rasional ; nalar, akal budi
  2. Kritis ; ketelitian
  3. Mendasar ; fondasi
  4. Sistematis ; langkah-langkah
  5. Normative ; moral

Pengertian Bisnis

Bisnis merupakan organisasi yang memiliki tujuan, rencana, dan hubungan kerja yang menghasilkan profesi yang memiliki kode etik.

Pengertian Etika Bisnis

Etika Bisnis adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana berbisnis dengan rasional, kritis, mendasar, sistematis, normative dan tidak melanggar aturan kode etik yang berlaku.

Pokok bahasan, materi dan matode etika bisnis

  1. Pokok – pokok bahasan etika bisnis:
    1. Membahas prinsip – prinsip umum yang berlaku dalam pengambilan keputusan bisnis dan masalah yang berhubungan dengan pengelolaan bisnis secara ilmiah.
    2. Membahas pola – pola dan perilaku pebisnis dalam mengambil keputusan bisnisnya.
    3. Membahas pengambilan keputusan bisnis berhadapan dengan stuktur dan tatanan masyarakat yang juga memiliki norma atau aturan moral yang berlaku.
    4. Membahas tanggung jawab pribadi atau kelompok atas keputusan bisnis yang di putuskan secara moral.
  1. Materi etika bisnis ; berhubungan dengan:
    1. Aspek ekonomi ; tata pengelolaan secara professional dan akuntabil yang transparan menurut ilmu ekonomi secara professional.
    2. Aspek hukum ; menyelenggarakan tata kelola bisnis dengan tidak melanggar aspek hukum (local, internasional yang berlaku).
    3. Aspek etika moralitas ; mengambil keputusan bisnis dan mampu mempertanggung jawabkan aspek penting yaitu hati nurani, golden rule/ hukum emas, penilaian umum.
  1. Matode etika bisnis
    1. Matode empiris – deskriptif ; matode yang memakai pendekatan fakta pelanggaran yang ada, membandingkan dengan berbagai tatanan moral masyarakat yang ada, mempelajarai sejarahnya, luasnya pengaruh dari sebuah keputusan bisnis yang di ambil.
    2. Matode fenomenologis ; matode yang memakai pendekatan dan penelitian unsur – unsur moral apa saja yang ada dalam sebuah keputusan bisnis, perbedaan pelanggaran norma moral atau pelanggaran sopan santun.
    3. Matode normative ; matode pengujian apakah norma moral tersebut di terima umum atau tidak, mengapa ditolak dan mengapa diterima.
    4. Matode metaetika ; matode ini berusaha dan bertujuan mengurangi atau menghilangkan kekeliruan/ pengkaburan dalam pengambilan keputusan bisnis agar terhindar dari tindakan pengadilan atau tuntutan hokum.

Etika bisnis dan kesadaran moral

  1. Tantangan pentingnya kesadaran moral
  • Pebisnis berhadapan dengan masyarakat multicultural.
  • Pengaruh globalisasi terhadap pencadangan internasional (blacklist).
  • Munculnya ideology – ideology baru, karirisme, materialism, konsumerisme, dan instantisme.
  1. Struktur dan kesadaran moral ; yang dimaksudkan dengan kesadaran moral adalah kesadaran seseorang akan sebuah kewajiban atau keharusan melakukan yang baik.
  • Kewajiban tersebut bersifat mutlak dan harus.
  • Kewajiban tersebut wajib bagi pribadi atau bukan diwakilkan.
  • Kewajiban tersebut “masuk akal” dan “pantas” disetujui dengan “benar”.
  • Kewajiban tersebut adalah tanggung jawab yang mengikat.
  • Kewajiban tersebut menentukan nilai “saya dihadapan umum”.
  1. Kesadaran moral bersifat mutlak ; dalam hal ini kesadaran moral bersifat imperative kategoris, artinya perintah tidak bersyarat atau imperative hipotesis apabila perintah tersebut bersyarat.
  2. Kesadaran moral tersebut
  • Berlaku secara umum, dimanapun.
  • Merupakan pemecahan masalah etika bisnis yang paling tepat.
  • Mempertimbangkan semua segi yang relevan.
  • Kesadaran diambil atas dasar kebebasan atau bukan paksaan.

Teori – teori tradisional etika bisnis

  1. Teori – teori etika bisnis dibagi atas 2 kategori, yaitu Teleology dan Deontology, perbedaan keduanya adalah
    1. Teleology teori berpendapat bahwa yang menentukan apakah tindakan atau keputusan bisnis tersebut tidak melanggar etika apabila tujuan atau akibat keputusan tersebut adalah baik.
    2. Deontology teori adalah suatu tindakan atau keputusan bisnis adalah baik kepada proses pengambilan keputusan adalah baik dan merupakan kewajiban.
    3. Teleological ethical system
      1. Teleology berpendapat bahwa moralitas adalah sebuah keputusan bisnis yang di tentukan dengan mengukur hasil atau akibat yang dihasilkan oleh keputusan tersebut atau sangat ditentukan oleh tujuan keputusan tersebut sesuai dengan artinya, teleo (tujuan – yunani).
      2. Memiliki tujuan yang baik, yaitu tujuan yang mencari greatest good (kebaikan terbesar), greatest number (jumlah terbanyak), greatest utility (kegunaan terbesar), greatest happiness (kebahagiaan terbesar).
      3. Teleology melahirkan pula “aliran baru” dalam etika bisnis yang disebut utilitarisme berasal dari kata utility (berguna/bermanfaat). Dua paham manajemen produksi yang mendukung pandangan teleology dan utilitaris adalah JEREMY BENTH (1748-1832) dan JOHN STUART MILL (1806-1873); mereka berpendapat bahwa tujuan akhir dari etika bisnis agar manfaat bisnis harus berguna bagi banyak orang, oleh sebab itu mereka mendukung aliran UTILITARISME.
      4. Teori ekonomi dan produktivitas mengatakan segala-galanya harus efisien, efektif dan berdaya guna. Rugi sekecil-kecilnya dan untung sebesar-besarnya. Cost harus sangat rendah agar memperoleh laba benefit (manfaat yang besar). Debet harus lebih besar dari kredit.
      5. Oleh sebab itu, utilitaris sangat memperhitungkan manfaat sebuah keputusan bisnis. Misalnya ; untuk dapat mengekspor kelapa sawit yang sangat menguntungkan Negara dalam hal devisa, maka kebun kelapa sawit harus diperluas, maka hutan yang ada lebih baik dijadikan? Apakah anda setuju?. Aliran utilitaris juga melahirkan “aliran baru” dalam pengambilan keputusan bisnis, yaitu “aliran konsekuensialisme” atau aliran yang hanya mempertimbangakan manfaat komersialisasi dari bisnis (akibat menguntungkan saja, efek lain tidak diperhitungkan).

Keberatan terhadap utilitaris ialah

  1. Hanya menilai unsur manfaat padahal bisa terjadi dibalik manfaat ada pelanggaran unsure etika yang sangat mendasar, yakni keadilan dan hak perorangan.
  2. Aliran ini mendorong ke liberalisme ekonomi ekstrim lewat persaingan yang tidak seimbang yang menimbulkan kartel ataupun monopoli dalam bisnis.

Kesimpulan

Dalam bidang study etika bisnis, Dapat disimpulkan bahwa perbedaan budaya di negara Taiwan dan Indonesia berbeda, dimana standarisasi keamanan pangan di Indonesia dan Taiwan berbeda, sehingga perusaan indomie tidak melakukan pelanggaran bisnis tetapi pihak indomie juga perlu memperhatikan standar pangan suatu Negara sebelum memasuki pangsa pasar di negara tersebut agar produk yang dipasarkan dapat di jual tanpa terjadi hal seperti ini lagi.

2 thoughts on “Etika Bisnis

Leave a Reply for Novia

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s